Tanggapan Terhadap Tulisan Prof. Ahmad Sewang Soal Syiah Masuk UIN Alauddin

0
775

Tulisan yang berjudul “Academic Freedom”, yang menuduh kami sebagai orang eksklusif, merasa diri paling benar, karena datang ke UIN mendengar ceramah dari Prof. Najamuddin Syafa dan dua dosen dari Universitas Al-Mustafa Internasional University of Iran, Ebrahim Zargar dan Ghasem Muhammadi, di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin, pada Selasa, 26 Desember 2017 lalu.

Kami sempat memberikan sanggahan, lalu dituduh macam-macam, maka izinkanlah kami meluruskannya sebahagian yang kami anggap keliru dari tulisan beliau Prof Ahmad M Sewang, bahwa:

Tidak benar kami menerobos ruang rektor dan memaksakan kehendak, karena kami lebih dahulu minta izin dan duduk menunggu sehingga diizinkan oleh petugas keamanan masuk di ruang tamu rektor.

Apalah daya kami ini akan memaksakan kehendak. Kami sekedar minta kepada Pak Rektor untuk meluangkan waktu menerima kami audensi dalam rangka menyampaikan saran-saran berkaitan kedatangan dua doktor dari Iran(Syiah) itu.

Cuma Pak Rektor langsung menanggapi dan menganggap masalah Sunni-Syiah sudah selesai, tidak perlu lagi diperbincangkan, dan kalau pun ada fatwa MUI tentang Syiah, maka, menurut Rektor UIN Alauddin, fatwa itu sifatnya tidak mengikat.

Dan jika ada mahasiswa yang terpengaruh, rektor siap tanggungjawab di akhirat. Jangankan Syiah yang satu agama, kata Rektor UIN Alauddin, komunis pun akan mereka terima.

Kata-kata seperti ini sangat tidak patut keluar dari mulut seorang rektor yang profesor, yang seharusnya takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesuai firmanNya: Sesungguhnya yang takut kepada-Ku ialah hamba-hamba-Ku yang berilmu…..

Inilah bentuk kecongkakan intelektual yang menunjukkan kedangkalan paham Rektor UIN Alauddin tentang bahaya Syiah.

Saya khawatir, semoga beliau tidak termasuk yang disebutkan oleh pakar tentang Syiah, bahwa kalau ada orang yang tidak khawatir tentang bahaya Syiah, tidak keluar dari salah satu dari dua kemungkinan; tidak paham atau sudah terkena bujukan Syiah.

Kalau Prof Ahmad Sewang beralasan kebebasan akademik, sehingga membolehkan orang Syiah Iran bebas menyampaikan pemikiran Syiahnya di kampus UIN, maka kami bantah bahwa kebebasan akademik itu harus bertanggung jawab dan sesuai dengan keislaman (Statuta UIN).

Memberi kesempatan orang Syiah keluar masuk kampus, yang ajarannya sudah difatwakan menyimpang, ditolak oleh mayoritas umat Islam Indonesia, yang mengandung bibit radikalisme, yang sesat dan menyesatkan menurut MUI, yang dinyatakan menyimpang dari ajaran Islam oleh Mahkamah Agung, maka kebebasan kampus yang seperti ini kebablasan, tidak bertanggung jawab dan tidak sesuai dengan norma keislaman.

Syiah adalah kemungkaran yang harus dilarang, namun ternyata petinggi UIN malah merangkulnya dan memberinya kesempatan menyebarkan ajaran di kampus.

Mahasiswa itu adalah amanah Allah Ta’ala untuk dididik sesuai Al-Qur’an dan Hadits, yaitu Islam yang hak dan sejati (Himne UIN).

Mana penggali Islam yang hak dan sejati di UIN, yang petingginya membiarkan paham pluralisme, Syiah, bebas berkembang di UIN.

Ajaran Syiah bertentangan dengan ajaran Islam yang murni, hak dan sejati.

Kesimpulannya adalah:

1. Ajaran Syiah itu ajaran yang menyimpang, yang tidak boleh diberi kebebasan karena merusak aqidah dan merusak moral dengan nikah mut’ah serta serta mengancam keutuhan NKRI dengan doktrin Imamah/Wilayah.

2. Kebijaksanaan MUI Sulsel, IMMIM dan UIN Alauddin, yang mengayomi dan memberi kebebasan Syiah menyebarkan ajarannya adalah kebijaksanaan yang keliru, yang akan menyesatkan civitas akademika dan umat yang berdampak besar bagi kemurnian aqidah.

Kalau Prof Ahmad M Sewang sebagai ketua IMMIM berani membuka diskusi dengan MUI dan UIN dan mengikutkan kami sebagai penggugat, kami kira inilah solusi yang tepat, sesuai firman Allah Ta’ala: Dan urusan mereka dimusyawarahkan antara mereka,,.

Jangan seperti di forum diskusi Selasa, 26 Desember 2017, di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Aluddin, saya menyerahkan bukti Syiah yang membahayakan aqidah, moral, dan.m mengancam keutuhan NKRI, kepada pengurus MUI/Dekan Fakultas Ushuluddin, malahan saya ditawari untuk diberangkatkan juga ke Iran, katanya, supaya tahu Syiah dari sumber aslinya.

Siapa tahu kalau di sana, saya didikte, diperlihatkan yang baik-baik saja, dan tidak mustahil diberi dana dan fasilitas yang merontokkan jiwa kritis saya, atau saya dijebak dan lain kemungkinan.

TINGGALKAN YANG MERAGUKAN KEPADA YANG TIDAK MERAGUKAN.

Sekian dan mohon maaf sebelumnya.

(KH.Muh. Said Abdul Shamad,Lc.)
Ketua LPPI Indonesia Timur
Wakil Ketua PDM Makassar

Spread the love