Peran Keluarga Dan Masyarakat Pada Pendidikan Anak Di Satuan Pendidikan

0
482

GENERASI bangsa Indonesia adalah generasi yang dikenal dengan bangsa yang tumbuh dalam khazanah nilai-nilai tradisional seperti hidup dalam kasih sayang, cinta akan perdamaian serta menghargai kesetaraan derajat antar sesama manusia. Nilai-nilai itu disemai dalam proses pendidikan baik formal maupun non formal.

Pendidikan merupakan aspek yang krusial dalam kehidupan ummat manusia. Ibarat kendaraan , pendidikan adalah bahan bakar dasar yang dapat menjadi penentu berjalannya roda kehidupan yang teratur, damai serta mengandung nilai moralitas yang tinggi.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu dimulai sejak anak dilahirkan dan berakhir setelah meninggal dunia, yang artinya pendidikan adalah pembudayaan, sebuah proses tranferisasi nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju ke arah yang lebih baik sejak awal hingga akhir kehidupan manusia.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan proses pendidikan yang berkesinambungan, dinamis dan sukses tentu saja bukan hanya fungsi dari pendidik yang berada di satuan pendidikan sekolah formal saja, akan tetapi adanya dua perangkat pendukung yang nantinya turut menentukan kesuksesan pendidikan anak dan dapat memberikan andil besar bagi proses berkembang dan suksesnya pendidikan anak di satuan pendidikan adalah peran keluarga dan masyarakat setempat.

Keluarga memiliki peran besar bagi pertumbuhan kecerdasan anak disekolah, keterlibatannya secara moril mendukung, mengayomi serta mengontrol proses pendidikan anak disatuan pendidikan adalah tangungjawab orangtua yang sangat besar.

Pendidikan keluarga merupakan pendidik yang pertama dan utama. Sejatinya, pendidik ideal adalah sosok yang mampu menempatkan peserta didiknya sebagai subjek, bukan objek pendidikan. Itu artinya, peserta didik akan diberi ruang yang seluas-luasnya untuk melakukan eksplorasi potensi dan bakat diri untuk kemudian berekspresi secara kreatif, mandiri serta bertanggung jawab.

Pendidik sejati adalah mereka yang menuntun proses pengekspresian peserta didiknya agar terarah dan tidak destrktif bagi diri dan sesamanya.

Adanya peran penting keluarga dalam pendidikan bahkan telah dicetuskan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara sejak tahun 1935, sebagai bagian dari Tri Sentra Pendidikan, yakni: alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Maka, kemitraan Tri Sentra Pendidikan ini tentu diharapkan dapat membangun ekosistem pendidikan yang mampu menumbuhkembangkan karakter dan budaya berprestasi.

Hal tersebut juga selaras dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 yang menyatakan pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, proses dan hasil pendidikan sejatinya tidak lagi menjadi perhatian sehari-hari para pendidik di sekolah saja melainkan juga menjadi sumber atensi baik dari elemen keluarga dan masyarakat agar mereka dapat lebih memahami program sekolah apakah nantinya akan berdampak positif atau tidak bagi prestasi anak.

Di lain sisi, peran keluarga yang juga tidak kalah penting dalam pendidikan anak disekolah adalah keterlibatannya dalam menyelaraskan kegiatan anak dirumah dengan hasil belajarnya di sekolah. Unsur kedisiplinan dan kejujuran adalah jalan sukses yang utama bagi anak dapat meraih kesuksesannya. Keluarga berperan mengatur jadwal rutin anak dirumah agar tidak melalaikan tugas sekolah juga sekaligus tetap memperhatikan kondisi fisik dan psikologis anak.

Keluarga sejatinya tetap memperhatikan dan mempetimbangkan aspek psikologis anak agar terbebas dengan peluang lahirnya tekanan mental akibat materi pendidikan yang padat dan rumit. Anak sejatinya harus senantiasa merasa nyaman dengan tugas harian disekolah yang dibawa kerumah, mentransfer budaya dan pengetahuan baru yang diperoleh disekolah dan orangtua yang berperan meluruskan kaidah-kaidah yang keliru dalam proses pendidikan anak dalam menerima materi pelajaran disekolah.

Keluarga juga berperan untuk tidak memaksa anak fokus pada pelajaran disekolah dan membatasinya untuk menikmati masa kanak-kanak dan remajanya menikmati hiburan dan permainan anak seumurannya. Elemen yang menjadi penggerak di satuan pendidikan faktanya tetap membutuhkan sumbangsih dari pihak keluarga untuk kemajuan sekolah dimasa kini dan yang akan datang.

Keluarga yang mendukung anak disatuan pendidikan akan terus berusaha agar anak dapat mengikuti kemajuan belajar anak dan memberikan dukungan untuk kemajuan anak serta agar bisa membantu mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah. Tentu saja dengan mengetahui dan menyadari lebih dalam proses pendidikan anak disekolah maka elemen keluarga akan memahami sikap dan tindakan apa yang harus dilakukan anak dalam mengatasi kendala selama proses pendidikan yang dilakoni anak.

Tujuan pendidikan secara nasional adalah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, kompeten, berkarakter serta berdaya saing tinggi. Regulasi inilah yang menjadi rujukan dalam membuat kebijakan serta untuk mengatur pendidikan di tingkat Nasional sampai tingkat satuan pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan yang dihajatkan bersama.

Peran Keluarga, dalam menciptakan lingkungan belajar dirumah yang menyenangkan dan mendorong perkembangan budaya prestasi anak sangat besar. Karena setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda dan cara belajar yang juga berbeda satu sama lainnya. Ada diantara anak yang mampu fokus belajar dengan kondisi tenang dikamar, adapula yang lebih nyaman belajar dilingkungan terbuka dan lain sebagainya. Sehingga hal paling efektif dan perlu dilakukan keluarga khususnya orangtua adalah menjalin interaksi dan komunikasi yang hangat dan penuh kasih sayang dengan anak.

Orangtua harus berupaya memberikan motivasi dan menanamkan rasa percaya diri pada anak. Setiap anak memiliki minat dan prestasi belajar yang berbeda-beda, maka orangtua sebisa mungkin harus mampu menjadi motivator menumbuhkembangkan semangat anak, orangtua harus meyakinkan anak akan potensi dirinya dan tidak menekan mentalnya atau bersikap membanding-bandingkan potensi anak yang satu dengan yang lainnya, hal tersebut yang dapat berdampak positif dalam menanamkan tekad belajar anak.

Orangtua pula harus menjalin hubungan dan komunikasi yang aktif dengan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, Mereka berupaya untuk turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan anak di sekolah, mengetahui dan memahami kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler anak disekolah, berkoordinasi dengan pihak sekolah jika termasuk bagaiman respon belajar anak dan adaptasinya selama proses belajar-mengajar berlangsung.

Dilain sisi , salah satu bentuk keterlibatan keluarga di sekolah yang harus didukung dan diberdayakan sepenuhnya oleh pemerintah ialah Komite Sekolah. Komite Sekolah merupakan penyambung lidah dan perpanjangan tangan keluarga terhadap lembaga pendidikan atau sekolah, sehingga dengan wadah ini orang tua (keluarga) bisa menyalurkan ide kreatif dalam memajukan sekolah dan memberikan solusi terhadap problem yang dihadapi di era kekinian yang begitu kompleks.

Permendikbud No. 75 tahun 2016 menyatakan dengan jelas juklak dan juknis komite sekolah, regulasi ini mengatur komite sekolah sebagai perwakilan keluarga di sekolah. Komite Sekolah seharusnya diberi ruang dan waktu untuk bisa melakukan pertemuan dangan segenap orang tua peserta didik secara berperiode, guna membahas masalah-masalah jika ada masalah serta menyerap masukan positif dari orang tua peserta didik yang mungkin bisa membantu dan memajukan penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga menjadi nyata keterlibatannya.

Kemitraan antara komite sekolah dengan pihak sekolah terutama kepala sekolah harus satu prinsip yakni memajukan sekolah. Idealnya tidak seharusnya komite sekolah menjatuhkan, atau mengkritisi secara berlebihan kebijakan kepala sekolah akan tetapi hal positif yaitu diberi solusi dan masukan yang membangun demi kemajuan pendidikan, karena sekali lagi pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

Sementara itu peran Masyarakat dalam menyelenggarakan dan mengendalikan mutu layanan pendidikan, baik dilakukan secara perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, dunia usaha, maupun organisasi kemasyarakatan juga tetap diperhiitungkan. Jika dalam UU Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 10 ayat (4) dinyatakan bahwa: pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan.

Sementara itu, dalam GBHN 1993 dinyatakan: “Pendidikan nasional dikembangkan secara terpadu dan serasi baik antarberbagai jalur, jenis, dan jenjang pendidikan, maupun antara sektor pembangunan lainnya serta antar daerah. Masyarakat sebagai mitra pemerintah berkesempatan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.”

Sejatinya peran serta disatuan pendidikan tidak hanyak tanggung jawab guru di sekolah dalam pendidikan formalnya, namun juga tanggung jawab bersama baik dengan keluarga dengan pendidikan in-formalnya maupun dengan masyarakat dengan pendidikan non-formalnya.

Fenomena yang terjadi dikalangan masyarakat yang berpendapat bahwa pendidikan itu hanya di sekolah sehingga banyak orang tua cenderung apatis dan menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya ke Bapak dan Ibu gurunya di sekolah. Padahal sudah jelas disebutkan dalam UUSPN No. 20 tahun 2003 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Itu artinya Dalam dunia pendidikan terdapat tiga bentuknya, yakni: pendidikan formal yang diperoleh di sekolah, pendidikan non-formal yang didapat melalui masyarakat di lingkungan, dan pendidikan in-formal atau pendidikan keluarga yang diterapkan di dalam keluarga. Ketiga bentuk ini harus bersinergi satu sama lain agar tecapainya tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan serta dihajatkan.

*) Penulis adalah Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here