3 EPISODE TAUHID (2-Habis)

0
22



Memanfaatkan Momentum

Penduduk Babilonia memiliki tradisi, setiap tahunnya mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai hari keramat. Berkemah dan membawa perbekalan untuk beberapa hari. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu.
“Inilah dia kesempatan yang kunantikan.” kata hati Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Dihancurkannya patung-patung dengan kapak yang berada di tangannya. Dan beliau meningglkan Patung yang besar secara utuh. Pada lehernya, Ibrahim mengalungkan kapak.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada heran dan takjub: “Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mereka ini?” Berkata salah seorang di antara mereka:”Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini.” Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:”Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu.” Selidik punya selidik, akhirnya terdapat kepastian yang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dapat diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mereka. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, dimana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Memang itulah yang diharapkan oleh Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mereka yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau di antara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan. Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Ibrahim datang menghadap Namrudz yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka. Ditanyalah Ibrahim oleh Namrud:”Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?” Dengan tenang dan sikap dingin, Ibrahim menjawab:”Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Coba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya.”
Namrudz pun terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata:” Bukankah engkau tahu, bahwa patung-patung itu tidak dapat berbicara dan berkata ?. Mengapa engkau meminta kami bertanya kepadanya?”. Terbentangkan kebathilan persembahan mereka. Terungkaplah kesesatan yang selam inimereka lindungi dan pertahankan. Ibrahim dengan logika sederhana berkata, “Jika demikian halnya, mengapa kalian menyembah patung yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan?”
Secara tidak langsung, nalar mereka telah mendapatkan fluks sengatan yang menggoncang alam bawah sadar mereka.  Secara tidak langsung, Mereka sebenarnya seperti dimaki, “Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sehat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu”. Namun itu secara tidak langsung.
Sebuah argumen yang menunjukkan kepiawaian retoris beliau memperjuangkan keyakinan yang suci.
Episode Iraq dan Syam; Menyucikan Diri dan Lingkungan dari Berhala Bulan, Bintang dan Matahari
Pada masa Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme. Menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut paganisme. Dewa Bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan dan karenanya, astronomi merupakan bidang yang sangat penting.
Dalam alkitab (kitab kejadian) menceritakan tentang pencariannya dengan kebenaran. Pada waktu malam yang gelap, beliau melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: “Inikah Tuhanku?” Kemudian apabila bintang itu terbenam, ia berkata pula: “Aku tidak suka kepada yang terbenam hilang”. Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), dia berkata: “Inikah Tuhanku?” Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia: “Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum yang sesat”. Kemudian apabila dia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah dia: “Inikah Tuhanku? Ini lebih besar”. Setelah matahari terbenam, dia berkata pula: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya)”. Inilah daya logika yang dianugerahi kepada beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya serta menerima tuhan yang sebenarnya.
Dalam petikan ayat quran di atas, terurai metode yang begitu hikmah.
Metode jidaal, tanpa menciderai lawan. Metode yang membuat lawan bertekuk lutut tanpa pukulan. Metode yang menyingkap kelemahan lawan, dan menunjukkan kebenaran argumen yang dibawanya.
Bulan, Bintang, dan Matahari adalah benda langit yang tak punya daya dan upaya. Ia hanya beredar menurut sunatullah yang telah digariskan allah. Mereka bergerak dalam sumbu rotasi, dan tidak akan saling mendahului, satu dengan yang lain. Setia mereka sudah ada kadar ketetapan dari yang maha menetapkan.
Maka dalam episode ini. Beliau menyucikan dirinya dari benda-benda di luar bumi. Bukan lagi kayu dan batu. Tapi kejahilan yang sedikit lebih modern. Bintang, bulan dan matahari. Namun semuanya tetap terbantah dengan kecerdasan dan kelihaian beliau mempertautkan fikrah yang bersih, tekad yang kuat, dan metode yang tepat. Sangat jarang orang yang mampu mempertemukan tiga tali ini.
Maka sebenarnya, keyakinan tentang astrologi. Keyakinan yang menghibungkan antara jodoh, rezeki bahkan nasib dengan bulan dan hitungan-hitungan bulan adalah pembualan. Tidak lain adalah was-was syaithan. Dan kejahilan itu, jauh telah dilakukan oleh kaum Nabi Ibrahim. Berarti jika masih terulang, maka sebenarnya manusia telah kembali ke masa kejahilan itu. Apapun metode, sarana dan bentuknya.
Nabi Ibrahim jauh lebih maju dan modern kehidupannya dibandingkan orang yang hidup di zaman sekarang dengan memperpegangi keyakinan seperti itu.
Episode Makkah; Penyucian Diri dari Berhala Istri dan Anak
Setelah menyucikan diri dari Berhala Kayu, Batu dan Benda Langit, ternyata masih ada episode yang jauh lebih berat. Ujiannya bukan tentang benda bumi, atau langit. Tapi pembuktian cinta yang hakiki. Cinta kepada lawan jenis. Cinta kepada sebaik-baik perhiasan. Cinta kepada kekasih dunia. Istri dan anak-anak.
Ketika beliau diperintahkan untuk hijrah dari Iraq dan Syam, datang ke sebuah tempat yang gersang, sunyi tak berpenghuni untuk meninggikan Rabbnya di Baitul Atiq, beliau harus melawan godaan yang sangat berat dari dirinya sendiri. Siapa yang mau tinggal di sebuah lembah tandus tak berpenghuni ?. Bahkan ia harus meninggalkan istrinya, Siti hajar ?. Kecintaan manusiawi.
Tapi beliau kembali berhasil melalui ujian perintah tuhannya. Beliau menitipkan istrinya, kepada Allah. Karena Dialah sebaik-baik penjaga.
Belum selesai ujian yang satu, datang kembali ujian yang lain. Kurbankan anak kesayang yang telah lama ia nanti-nanti.
Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim, namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud, “Allah lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalahnya.” Nabi Ibrahim tidak membuang masa lagi, berazam tetap akan menyembelih Nabi Ismail puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah diterimanya.
Inilah ujian yang sebenarnya paling berat. Karena ia menuntu kecintaan yang paling murni. Paling bersih dan tidak tercampuri dengan kecintaan kepada makhluk, sedikitpun. Bahkan sampai pada kekasih yang Allah sendiri pertautkan hati kita dengannya. Istri dan anak.
Namun, karena kesempurnaan tauhidnya, Allah menolongnya sekali lagi dengan mengganti Ismail dengan seekor domba.
Betapa banyak para misioner dakwah yang bertekuk lutut di depan istri dan anak-anaknya. Betapa banyak para da’i yang tak mampu menanggung ujian kecintaan kepada istri dan anak-anak.
14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[1]dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Tauhid, adalah misi terbesar setiap Nabi dan Rasul. Di dalamnya meliputi keteraturan untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah. Jiwa, kehendak, aturan keluarga, masyarakat sampai pada tata kelola negara dan perundang-undangan. Dan kita-lah yang kini wajib untuk meneruskan perjuangannya (elfaatih).
Maraji’ (dari berbagai sumber)



[1] Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here