Mengapa Umat Islam Tidak Bersatu dalam Memulai Puasa Ramadhan?

0
36

Pertanyaan:

Mengapa umat Islam tidak bersatu dalam memulai puasa Ramadhan? Padahal hilal (bulan sabit) Ramadhan hanya satu? Dahulu mereka masih bisa diberi udzur jika berselisih karena tidak adanya sarana informasi saat itu.

Jawaban:

Pertama, penyebab utama terjadinya perbedaan permulaan puasa di suatu negara dengan negara lainnya adalah adanya perbedaan mathali’ (tempat munculnya) hilal. Sementara perbedaan tempat terbitnya hilal ini adalah perkara yang sudah diketahui secara pasti baik melalui indera ataupun akal.

Dengan alasan ini, maka tidak mungkin mengharuskan umat Islam untuk berpuasa pada satu waktu, karena  hal ini sama saja dengan memaksa  umat Islam di belahan bumi lain untuk berpuasa sebelum melihat hilal atau bahkan sebelum waktunya untuk muncul.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya tentang orang yang menyerukan penyatuan umat dalam berpuasa, agar semua pihak berpatokan pada tempat munculnya hilal di Makkah.

Maka beliau menjawab:

“Dari sudut ilmu astronomi maka hal ini mustahil, karena  tempat muncul hilal sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah itu berbeda menurut kesepakatan para pakar dalam bidang ini. Jadi karena adanya perbedaan ini, maka baik dalil-dalil yang sifatnya nash maupun teori mengonsekwesikan setiap negara memiliki ketetapan sendiri.

Adapun dalil nash adalah firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Jika misalnya ada orang di belahan bumi yang jauh  tidak melihat bulan–atau hilal-sementara penduduk Makkah telah melihat hilal, maka bagaimana mungkin perintah dalam ayat ini berlaku kepada mereka yang tidak melihat bulan. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Bepuasalah kalian ketika melihat (bulan sabit Ramadhan) dan berlebaranlah ketika melihat (bulan tsabit Syawal).” (Muttafaq ‘alaihi).

Jika penduduk Makkah, misalnya, melihat hilal, maka bagaimana mungkin kita mengharuskan penduduk Pakistan dan penduduk negara-negara tetangganya yang ada di belahan bumi sebelah timur lainnya untuk berpuasa, padahal kita ketahui bahwa hilal belum terbit di ufuk mereka? Sementara Nabi shallallahualaihi wa sallam mengaitkan awal puasa dengan melihat  hilal.

Adapun secara logika, maka ada sebuah analogi yang terbukti dan tidak mungkin ada kontradiksi di dalamnya. (Yaitu) bahwa kita ketahui bahwa fajar terbit lebih dulu dari arah timur bumi. Ketika fajar telah terbit di arah timur, apakah kita diharuskan mulai menahan makan minum sementara waktu di wilayah kita masih malam? Jawabannya, “Tidak.” Kalau matahari terbenam di arah barat, sementara di wilayah kita masih siang, apakah kita dibolehkan untuk berbuka? Jawabannya, “Tidak.”

Jadi hilal sama persis seperti matahari. Hilal penentuan waktunya bersifat bulanan. Sementara matahari penentuan waktunya bersifat harian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatakan,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Dan  Allah juga mengatakan,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara yang menyaksikan bulan, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Maka konsekuensi dari kandungan dalil-dalil ini, -baik yang sifatnya nash maupun teori- adalah menetapkan untuk setiap wilayah memiliki hukum khusus terkait dengan puasa dan berbuka. Hal tersebut dikaitkan dengan tanda yang bersifat kasat mata yang telah Allah jadikan dalam Kitab-Nya dan telah ditetapkan  oleh Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam dalam sunnahnya yaitu terlihatnya bulan, dan terlihatnya matahari atau fajar.” (Lihat:Fatawa Arkan al-Islam, hal. 451)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang analogi ini dan menguatkan argumentasi orang yang memandang adanya pengaruh perbedaan mathla’ (tempat terbitnya bulan) dalam penetapan masuknya Ramadhan.

Mereka mengatakan, bahwa penentuan waktu bulanan seperti penentuan waktu harian. Sebagaimana negara berbeda dalam puasa dan berbuka setiap hari, begitu juga seharusnya mereka berbeda dalam puasa dan berbuka yang bersifat bulanan. Telah diketahui bahwa puasa harian jelas perbedaannya menurut kesepakatan umat Islam. Barangsiapa yang berada di timur, maka mereka akan menahan makan minum (berpuasa) terlebih dahulu dibandingkan orang yang berada di barat. Tetapi di sisi lain mereka akan berbuka lebih awal.

Kalau kita telah menjadikan perbedaan mathla’ sebagai sebuah alasan hukum dalam penentuan waktu harian, maka hal ini sangat serupa dengan penentuan waktu bulanan.

Tidak mungkin seseorang mengatakan bahwa firman Allah Ta’ala,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا ، وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا ، وَغَرَبَتْ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

“Kalau malam telah datang  dari arah sini dan siang  telah pergi dari sini serta matahari telah terbenam, maka orang puasa pun berbuka.”

Tidak mungkin seseorang mengatakan, bahwa ketentuan (dalam kedua dalil) ini menunjukkan bahwa ketetapan waktu itu berlaku umum untuk semua kaum muslimin di seluruh tempat (secara bersamaan); yaitu bahwa waktu matahari terbenam dan berbuka sama di seluruh dunia.

Hal yang sama pula kita katakan dalam hal keumuman firman  Ta’ala,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Dan barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan maka berpuasalah (pada bulan itu).”

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا

 “Jika kalian telah melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawal), maka berlebaranlah.”

Pendapat ini sebagaimana yang Anda lihat dikuatkan oleh makna yang diinginkan dari lafal nash, begitu pula logika dan qiyas yang benar, yaitu analogi penentuan waktu bulanan dan penentuan waktu harian. (Lihat: Fatawa Ramadhan, hal. 104).

Hai’ah Kibar al-‘Ulama (Majelis Ulama Arab Saudi) telah mengeluarkan penjelasan tentang  masalah penting ini, sebagai berikut:

Pertama: Perbedaan mathla’ (tempat muncul) hilal adalah perkara yang sudah dimaklumi bersama melalui indera dan akal. Semua ulama sepakat dalam hal ini. Akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam menetapkan: apakah perbedaan mathla’ itu mempengaruhi penetapan waktu memulai puasa atau tidak.

Kedua: Masalah perbedaan mathla’ termasuk masalah teoritis yang membuka ruang berijtihad. Perbedaan pendapat dalam masalah ini memang tidak bisa dihindari bagi para ulama dan ahli, dan karena itu ia termasuk perbedaan pendapat yang dapat dimaklumi.

Siapa yang pendapatnya yang benar mendapat dua pahala yaitu pahala ijtihad dan pahala dari kebenaran ijtihadnya. Sementara yang salah mendapat satu pahala, yaitu pahala ijtihad.

Para ulama berbeda pandangan dalam masalah ini menjadi dua kubu:

Sebagian mereka berpendapat bahwa perbedaan mathla’ mempengaruhi penetapan waktu memulai puasa.

Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa perbedaan mathla’ sama sekali tidak berpengaruh.

Masing-masing golongan membawa dalil dari al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan bisa jadi mereka membawakan dalil yang sama. Misalnya mereka sama-sama berdalil dengan firman Allah,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” (QS. al-Baqarah:189).

Atau sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِه

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berhari rayalah juga karena melihatnya.”

Hal itu disebabkan perbedaan sudut pandang dalam memahami sebuah nash dan perbedaan dalam cara pengambilan hukum dari sebuah dalil.

Setelah berbagai pertimbangan, maka majelis berpendapat menganggap adanya perbedaan mathla’. Juga pertimbangan bahwa masalah ini tidak ada dampak yang dikhawatirkan akibatnya. Dan perkara ini telah hadir dalam perjalanan Islam ini selama 14 abad. Kita tidak mengetahui ada suatu masa yang menyatukan umat Islam dalam satu rukyat.

Maka anggota Hai’ah Kibar al-‘Ulama berpendapat membiarkan masalah ini apa adanya tanpa memperluas pembahasan. Sehingga, setiap negara Islam mempunyai hak untuk memilih pendapat yang dianggapnya benar dari dua pendapat yang tadi telah disebutkan dalam masalah ini dengan bersandar pada pendapat para ulamanya. Karena kedua pendapat tersebut memiliki dalil-dalil dan sandarannya masing-masing.

Ketiga: Majelis ulama memandang dalam menanggapi masalah penetapan terbitnya hilal dengan ilmu hisab dan menanggapi dalil-dalil dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang digunakan untuk membenarkannya, dan setelah meneliti keterangan para pakar dalam masalah ini, maka Majelis Ulama bersepakat bahwa ilmu hisab tidak boleh dipakai untuk menetapkan waktu terbitnya hilal dalam seluruh perkara syariat.

Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِه

 “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berhari rayalah juga karena melihatnya.”

Dan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْه

 “Janganlah memulai puasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah berhari raya hingga kalian melihatnya.” Dan beberapa dalil lain yang semakna dengannya.

(Lihat: Fatawa al-Lajnah al-Daimah, 10/102).

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/50487

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here