Hukum Persaksian Wanita Dalam Rukyatul Hilal

0
51

Pertanyaan:

Apakah persaksian wanita diterima dalam melihat hilal Ramadhan?

Jawaban:

Para ulama fikih berbeda pendapat dalam hal menerima kesaksian seorang wanita sehubungan dengan melihat  hilal Ramadhan menjadi dua pendapat:

Pendapat pertama, kesaksiannya dapat diterima. Ini adalah pendapat Madzhab Hanafiyah-jika cuaca berawan-dan pendapat yang dipilih Hanabilah serta salah satu pendapat dalam Mazdhab Syafi’iyyah.

Pendapat kedua, persaksiannya tidak diterima. Dan ini adalah pendapat Madzhab Malikiyah serta pendapat terkuat dalam Madzhab Syafi’iyyah.

Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughni (3/48),

“Jika yang mengabarkan itu wanita, menurut Madzhab (Hanbaly) diterima perkataannya. Dan ini pendapat Abu Hanifah, salah satu pendapat murid-murid al-Syafi’i. Karena itu adalah berita yang berkaitan dengan agama maka statusnya seperti periwayatan hadits, pemberitahuan tentang kiblat, atau masuk waktu shalat.

Dan ada kemungkinan itu tidak dapat diterima karena itu adalah kesaksian tentang penampakan hilal, dan persaksian seorang wanita tidak dapat diterima dalam hal itu, seperti halnya hilal bulan Syawal.”

Silahkan lihat Tabyin al-Haqa’iq, 1/319, al-Taj wa al-Iklil, 3/278, al-Majmu’, 6/286, Kasysyaf al-Qina’, 2/304.

Kalangan Hanafiyah membedakan antara kondisi mendung dan terang. Dalam kondisi mendung, diterima persaksian dua lelaki atau seorang laki-laki dan dua wanita. Sementara dalam kondisi terang, maka diharuskan persaksian lebih banyak orang. Silakan lihat kitab al-Bahr al-Ra’iq, 2/290.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata,

“Sebagian ulama mengatakan bahwa wanita tidak diterima persaksiannya baik saat memasuki bulan Ramadhan atau yang lainnya, karena yang melihat hilal pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah laki-laki. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

فإن شهد شاهدان فصوموا وأفطروا

 “Kalau ada dua orang laki-laki yang bersaksi, maka berpuasalah dan berbukalah.”

Sementara wanita adalah syahidah (saksi perempuan), bukan laki-laki.

Adapun dalil dari Madzhab Hanbali bahwa ini adalah kabar yang berkaitan dengan agama, sehingga kedudukannya sama antara laki-laki dan perempuan dalam periwayatannya. Dan periwayatan juga merupakan kabar terkait agama. Oleh karena itu, mereka tidak mensyaratkan dalam melihat hilal Ramadhan penetapannya bahwa ia laki-laki atau perempuan di hadapan Hakim. Tidak juga dengan mengucapkan persaksian. Bahkan mereka mengatakan, kalau seseorang mendengar orang terpercaya memberitahukan orang dalam majlisnya bahwa dia melihat hilal, maka diharuskan berpuasa dengan kabar tersebut.” (Lihat: al-Syarhu al-Mumti’, 6/326).

Sementara hilal Syawal, maka tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dua orang laki-laki sebagai saksi.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/98154

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here