Hukum Berbicara dengan Orang Lain Saat I’tikaf

0
41

Pertanyaan:

Apakah benar tidak layak untuk bercakap-cakap dengan orang lain saat melakukan i’tikaf?

Jawaban:

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Maksud dari i’tikaf adalah seseorang meluangkan waktu untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah dan menjauhi segala hal yang menyibukkannya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf dalam tenda semacam kemah kecil di masjid.

Hal ini dimaksudkan agar orang yang beri’tikaf tidak terganggu dengan kehadiran orang lain di dalam masjid, ia tidak melihat mereka dan mereka pun tidak melihatnya, inilah yang selayaknya dilakukan oleh orang yang beri’tikaf. Jika ia berbicara sedikit dengan orang lain atau ada orang yang mengunjunginya lalu ia berbicara dengannya, maka hal demikian tidak mengapa baginya.

Hendaklah ia berbicara dengan suara lirih agar tidak mengganggu orang yang berzikir kepada Allah atau orang yang membaca Al-Qur’an ataupun orang yang shalat dalam masjid. Selayaknya pembicaraan tersebut sedikit agar tidak melalaikannya dari tujuan beri’tikaf.

Diriwayatkan oleh al-Bukhary (2035) dan Muslim (2175) dari ‘Ali bin Husain bahwa Shafiyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahunya:

أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي المَسْجِدِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً، ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا

“Bahwa dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menemuinya saat beliau beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Lalu dia berbincang-bincang sesaat dengannya kemudian bangkit untuk pulang, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut bangkit mengantarkannya ke rumah.”

Ibnu Daqiq al-‘Ied Rahimahullah dalam kitab “al-Ihkam” (2/45) berkata:

“Hadits tersebut menunjukkan bahwa dibolehkan bagi wanita mengunjungi orang yang beri’tikaf dan dibolehkan berbicara dengannya.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah berkata:

“Perbuatan orang yang beri’tikaf terbagi atas beberapa bagian: perbuatan yang mubah, perbuatan yang dianjurkan atau disunahkan dan perbuatan yang dilarang.

Perbuatan yang dianjurkan adalah menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah, beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu adalah maksud dan tujuan dari ibadah i’tikaf oleh karena itu pelaksanaannya hanya dilakukan di dalam masjid.

Sedangkan perbuatan yang dilarang yaitu apa-apa yang menafikan ibadah i’tikaf seperti keluar dari masjid tanpa uzur (alasan yang diperbolehkan), jual beli, menggauli istri dan lain semisalnya dari perbuatan-perbuatan yang membatalkan i’tikaf karena meniadakan tujuan i’tikaf itu sendiri.

Dan perbuatan mubah atau yang dibolehkan seperti berbicara dengan orang lain, menanyakan keadaannya dan semisalnya dari perbuatan-perbuatan yang dibolehkan Allah bagi orang yang beri’tikaf.” (Lih: Majmu Fatawa wa Rasail al-‘Utsaimin 20/175-176).

Beliau juga berkata:

“Tidak mengapa sedikit berbicara dengan orang lain yang beri’tikaf bersamanya atau dengan orang yang datang mengunjunginya.” (Lih: Jalasat Ramadaniyah 18/15).

Syekh Ibnu Baz Rahimahullah berkata:

“Berbicara dalam masjid, jika mengenai perkara dunia dan bercakap-cakap dengan teman-teman anda membahas urusan dunia mereka, jika sedikit maka tidak mengapa in sya Allah. Namun jika banyak, maka hukumnya makruh (dibenci). Dimakruhkan menjadikan masjid sebagai tempat pembicaraan dunia. Karena masjid dibangun untuk mengingat Allah, membaca al-Qur’an, shalat lima waktu dan lain sebagainya dari amalan-amalan kebaikan seperti mengerjakan shalat sunah, beri’tikaf dan menghadiri majelis ilmu.

Sedangkan jika digunakan sebagai tempat perbincangan masalah dunia, maka itu dimakruhkan. Akan tetapi ada hal kecil yang perlu dilakukan seperti memberi salam kepada orang yang ia temui dan bertanya tentang keadaannya dan keadaan anak-anaknya atau bertanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan masalah dunia tapi tidak lama dan hanya sedikit, maka hal itu tidak mengapa baginya.” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darbi 2/706).

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/221445

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here