Hukum I’tikaf Bagi Wanita Haid

0
57

Pertanyaan:

Saya telah beri’tikaf sejak beberapa tahun belakangan ini setiap sepuluh malam terakhir Ramadhan di salah satu masjid. Dan pada hari kedua puluh tujuh, saya terkejut dengan datangnya haid, akhirnya saya pun keluar dari i’tikaf.

Lalu  beberapa tahun setelah itu, saya bertanya kepada seorang ulama ahli fatwa dan berkata kepadaku bahwa wajib bagi saya untuk menyempurnakan hari-hari i’tikaf yang tersisa.

Maka saya pun beri’tikaf di kamar rumahku. Akan tetapi setelah itu saya mengetahui bahwa i’tikaf tidak sah kecuali di dalam masjid. Yang menjadi pertanyaanku adalah apakah saya harus memulai i’tikaf baru di masjid selama sepuluh hari atau apa yang selayaknya saya lakukan?

Jawaban:

Pertama: Para ulama sepakat bahwa laki-laki tidak sah beri’tikaf kecuali di dalam masjid. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِد

“Janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Maka dari itu i’tikaf dikhususkan hanya dilakukan di dalam masjid saja. (Lih: al-Mughni, karya Ibnu Qudamah 3/189).

Jumhur ulama berpendapat bahwa wanita sama halnya dengan laki-laki dalam masalah ini. Maka dari itu tidak sah i’tikaf seorang wanita kecuali dalam masjid. Dan tidak sah pula i’tikaf seorang wanita dalam masjid atau mushalla rumahnya.

Kedua:

I’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hukumnya sunnah yang dianjurkan bagi kaum lelaki, dan juga kaum wanita jika terhindar dari fitnah. Yaitu dengan syarat ada tempat khusus untuk para wanita dan i’tikaf tersebut tidak menghalanginya dari melaksanakan kewajiban-kewajibannya serta telah mendapat izin suaminya.

Ketiga:

Hukum asal i’tikaf adalah sunnah, bukan wajib. Tidak menjadi wajib kecuali karena nazar. Jika dia bernazar maka dia harus memenuhinya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلا يَعْصِهِ

“Siapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka taatilah. Dan siapa yang bernazar untuk bermaksiat kepada-Nya, maka jangan berbuat maksiat.” (HR. Al-Bukhary no.6696)

Dan karena Umar Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، قَالَ : أَوْفِ بِنَذْرِكَ

“Wahai Rasulullah, dahulu saya pernah bernazar sewaktu Jahiliyah untuk beri’tikaf satu malam di Masjidil Haram, maka beliau bersabda, ‘Tunaikan nazarmu. (HR. Al-Bukhary no.6697 dan Muslim no.1656)

Ibnu al-Munzir berkata dalam kitab al-Ijma’ hal. 53,

“Para ulama bersepakat bahwa i’tikaf hukumnya sunnah dan tidak diwajibkan kecuali jika ia mewajibkan dirinya dengan bernazar maka ia wajib untuk beri’tikaf.”

Keempat:

Jika seorang wanita beri’tikaf dalam masjid lalu tiba-tiba haid, maka dia harus keluar dari masjid -menurut kesepakatan para ulama-, dan adapun i’tikaf yang telah ia lakukan sebelum masa haid tidak batal menurut jumhur ulama.

Jika telah suci, dan i’tikaf yang telah ia lakukan sebelumnya bersifat wajib -karena nadzar-, maka ia harus kembali ke masjid untuk menyempurnakan i’tikafnya -menyambung apa yang telah ia mulai sebelumnya- dan mengganti apa yang ia lewatkan serta tidak ada kaffarah (denda) atasnya.

Sedangkan jika i’tikafnya bersifat sunnah, maka tidak diwajibkan untuk kembali ke masjid dan i’tikaf tersebut tidak mesti diganti. Imam Malik Rahimahullah berkata terkait perihal wanita tersebut:

“Kalau dia beri’tikaf kemudian haid maka ia pulang ke rumahnya dan jika telah suci ia kembali ke masjid kapan pun dia bersih. Kemudian menyambung apa yang telah ia mulai sebelumnya.” (Lih: al-Muwattha 1/316).

Silahkan lihat kitab al-Mughni (3/206) dan Syarh al-Umdah karya Ibnu Taimiyah (2/839 – Bab Puasa).

Kesimpulan:

Jika i’tikaf anda bersifat sunnah -sebagaimana yang kami pahami dari pertanyaan-, maka hari-hari i’tikaf yang telah berlalu sebelum datangnya masa haid, hukumnya sah. Sementara sisanya setelah datang masa haid, anda tidak diharuskan kembali ke masjid untuk menyempurnakan atau menggantinya. Dan jika i’tikaf anda bersifat wajib (karena memenuhi nadzar), maka kami harus mengetahui bentuk ungkapan nadzarnya, agar kami dapat menentukan apakah itu wajib atau tidak.

 

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/222426

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here