Ingin Beri’tikaf Sebulan Penuh tapi Keluarga Membutuhkannya

0
38

Pertanyaan:

Suami saya berniat i’tikaf pada bulan Ramadhan secara penuh, sementara kami membutuhkannya. Perlu diketahui bahwa suami saya mempunyai tiga orang istri, salah satu diantara kami sedang mengandung sembilan bulan dan tinggal di daerah berbeda dari tempat tinggal suami. Dan dia (suami) sudah mempunyai beberapa anak. Kami tidak ingin dia pergi dari awal bulan.

Apakah dia berhak untuk pergi walaupun tanpa kerelaan dari kami karena kami sangat membutuhkan keberadaannya di tengah kami? Saya mohon jawabannya. Terima kasih.

Jawaban:

I’tikaf adalah ibadah yang agung, dimana seorang hamba terputus dari kesibukan dunia untuk bermuhasabah dan menyembah Tuhannya. Jika ada ibadah yang belum sempat ia lakukan sebelumnya, maka sekarang ia mempunyai waktu luang untuk itu. Dan jika dahulunya ibadah kurang maksimal, maka sekarang ada waktu untuk melengkapinya. Tidak ada selisih pendapat di antara para ulama bahwa i’tikaf hukumnya sunnah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar menukilkan dalam kitab Fathu al-Bari (4/272) dari Imam Ahmad tentang pendapatnya:

‘’Saya tidak mengetahui seorang pun dari kalangan para ulama selisih pendapat bahwa i’tikaf hukumnya sunnah.”

Akan tetapi ketika seseorang melakukan ibadah tersebut, ia tidak boleh mengurangi kewajiban-kewajiban syar’inya, seperti: menunaikan kewajibannya atas keluarganya, melindungi istri dan merawat kedua orangtuanya, jika hal tersebut harus ia lakukan dan tidak ada orang lain yang dapat melakukannya.

Kalau sekiranya ada saudara atau saudarinya yang dapat melakukan kewajiban-kewajiban tersebut, maka dalam hal mendidik anak-anaknya tidak boleh diwakilkan kepada orang lain. Begitu juga dalam hal melindungi istrinya tidak boleh dilakukan selain dirinya sendiri.

Sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan, maka pendapat kami adalah sang suami tidak dibolehkan beri’tikaf selama sebulan penuh bahkan tidak pula kurang dari sebulan. Karena hal itu dapat melalaikan kewajiban syar’i yang telah Allah wajibkan kepadanya.

Kami melihat bahwa ia bisa menggabungkan antara dua perkara yaitu ia bisa menjaga keluarganya dan memenuhi kebutuhan mereka, setelah itu ia baru beri’tikaf beberapa hari di masjid. Kemudian pulang ke rumahnya untuk menunaikan kewajibannya lalu kembali lagi ke masjid untuk memulai i’tikaf yang baru. Demikian itu agar tidak terjadi pelanggaran syariat dan tidak ada seorangpun yang akan mencelanya.

Syekh ‘Abdullah bin Jibrin Rahimahullah ditanya:

“Berapa waktu maksimal dan minimal dalam beri’tikaf?”

Beliau menjawab:

‘‘Tidak ada waktu maksimal, akan tetapi makruh jika terlalu lama hingga ia melalaikan keluarganya. Sebagaimana dalam hadits,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَعُوْلُ

“Cukuplah seseorang itu berdosa ketika melalaikan orang yang menjadi tanggungannya.”

Maka barangsiapa yang i’tikafnya terlalu lama maka pasti berakibat ia harus meninggalkan pekerjaannya dan membebani orang lain untuk menafkahinya serta adanya kesusahan dengan harus diantarkan kepadanya makan dan minumnya ke masjid dan kebutuhan-kebutuhannya yang lain.” (Lih: Hiwar fi al-I’tikaf soal no. 2).

Beliau Rahimahullah juga ditanya:

“Jika seseorang ingin beri’tikaf akan tetapi dia sebagai penanggung jawab dalam keluarganya dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya; maka manakah yang lebih utama baginya, menjaga keluarganya di rumah atau beri’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan?”

Maka beliau menjawab:

“Kami memilih ia melakukan kewajibannya terhadap keluarganya dan memenuhi keperluan mereka, karena keberadaannya di tengah mereka seperti mahram dan pelindung yang melindungi dan menjaga jiwa dan harta mereka serta bertanggung jawab atas makanan mereka, sedangkan jika ia beri’tikaf dan meninggalkan mereka tanpa wali maka sangat rawan terjadi pencurian dan kerusakan atau keperluan mereka terbengkalai atau mereka kesulitan mengambil keperluan mereka dari pasar atau mereka membebani orang lain untuk membeli keperluan mereka, yang mana semua itu menjadi beban yang tidak mampu mereka pikul.

Diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Abdullah bin Umar Radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

Cukuplah seseorang itu berdosa, ketika melalaikan orang yang menjadi tanggungannya.

Maka termasuk dalam hal ini, tidak memberi nafkah dan menelantarkan mereka tanpa berusaha bekerja padahal sebenarnya dia mampu. Jikalau ia mendapatkan seseorang dari kalangan kerabatnya yang mampu menjaga keluarganya dan memenuhi kebutuhan mereka; maka diperbolehkan baginya untuk melaksanakan i’tikaf, bahkan disunnahkan untuknya karena tidak ada yang menyibukkannya.” (Lih: Hiwar fi al-I’tikaf soal no. 11).

Telah ada peringatan sebelumnya tentang kesalahan orang yang melalaikan keluarganya dan tidak memenuhi kebutuhan mereka dengan alasan sibuk berdakwah dan belajar. Hal itu tidak menjadi udzur bagi mereka yang melalaikan apa yang telah menjadi kewajibannya.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/155577

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here