Memulai Puasa Di Hari Keempat Ramadhan

0
63

Pertanyaan:

Apakah saya diperbolehkan untuk memulai puasa Ramadhan di hari keempat?

Jawaban:

Pada dasarnya, puasa Ramadhan adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang berakal, baligh, tidak sedang dalam perjalanan (mukim), dan mampu untuk menjalankannya.

Oleh karena itu, barangsiapa yang telah memenuhi syarat-syarat di atas, maka haram baginya untuk tidak berpuasa kecuali ada udzur yang diperbolehkan syariat. Adapun mereka yang tidak menjalankan puasa tanpa ada udzur, pada hakikatnya mereka telah menyelisihi perintah Allah dan RasulNya serta menodai kesakralan bulan Ramadhan yang agung ini.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة:183)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. al Baqarah, 2:183).

Pada ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ (البقرة:185)

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. al Baqarah, 2:185).

Dari rangkaian ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa apabila bulan Ramadhan sudah dinyatakan masuk, baik dengan cara melihat (ru’yat) hilal ataupun dengan menyempurnakan (ikmal) bulan Sya’ban menjadi 30 hari, maka seseorang yang mengaku dirinya beriman wajib menjalankan puasa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم).

“Islam dibangun di atas lima (pilar); Bersaksi bahwa tiada tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan haji dan menjalankan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no.8 dan Muslim no. 16).

Jika pertanyaan yang anda ajukan ini berkaitan dengan keinginan anda untuk menunda puasa hingga hari ke empat Ramadhan tanpa adanya udzur sama sekali, maka sejatinya anda sudah mengetahui bahwa hal tersebut haram dan tidak boleh dikerjakan, bahkan termasuk ke dalam dosa besar.

Akan tetapi, jika keinginan anda untuk menunda puasa karena adanya udzur syar’i maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Dan begitu udzur anda sudah selesai, maka wajib bagi anda untuk berpuasa pada saat itu juga, baik pada hari keempat atau hari yang lainnya, dan juga ditambah dengan kewajiban untuk mengganti (qadha’) hari-hari yang anda tinggalkan pada hari yang lain sebagaimana ayat yang sudah disebutkan sebelumnya.

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ (البقرة:185)

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah, 2:185).

Artinya, apabila seseorang tidak berpuasa karena sakit atau sedang dalam perjalanan, maka wajib baginya untuk mengqadha’ puasa sebanyak hari yang dia tinggalkan ketika bulan Ramadhan sudah selesai.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/65773

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here