Musafir Boleh Berhubungan Suami-Istri Di Siang Hari Ramadhan

0
51

Pertanyaan:

Apa hukum bagi seorang laki-laki yang menggauli istrinya di siang hari pada bulan Ramadhan dalam keadaan bepergian?

Jawaban:

Tidak ada kafarat dan dosa baginya, sebab seorang musafir boleh membatalkan puasanya. Akan tetapi mereka harus mengqadha’ puasanya pada hari yang lain atas hari yang ia tinggalkan.

Para ulama yang tergabung dalam Komisi Tetap Untuk Fatwa dan Kajian Ilmiyah pernah ditanya (Fatawa al-Lajnah al-Da’imah 10/202) tentang hukum seorang yang menggauli istrinya siang hari pada bulan Ramadhan, sementara keduanya sedang melakukan  bepergian.

Mereka menjawab:

Boleh membatalkan puasa bagi para musafir pada siang hari bulan Ramadhan dan wajib menqadha’nya. Hal ini berdasarkan firman Allah Azza wajalla:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Oleh karenanya, dibolehkan baginya untuk makan, minum dan melakukan hubungan suami istri  selama dalam keadaan bepergian.

Syaikh Abd al-Aziz bin Baz rahimahullah ditanya dalam Majmu’ Fatawa (15/307) tentang hukum menggauli istri siang hari pada bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa, dan bolehkah bagi musafir jika ia membatalkan puasanya ia melakukan hubungan suami istri bersama istrinya?

Beliau menjawab:

“Bagi seorang yang menggauli istrinya siang hari bulan Ramadhan sementara ia dalam keadaan wajib puasa, maka ia harus membayar kafarat. Maksud saya adalah kafarat zihar, yaitu membebaskan budak. Jika ia tidak sanggup, maka ia harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Jika ia tidak sanggup, maka ia harus memberi makan pada 60 orang miskin dengan tetap wajib mengqadha’ puasanya dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala atas dosa yang ia lakukan.

Adapun bagi seorang musafir atau seorang yang sakit karena mengidap penyakit yang membolehkan baginya tidak berpuasa, maka tidak apa-apa baginya melakukan hubungan suami istri dan tidak ada kafarat bagi mereka. Akan tetapi wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya  sesuai hari ia menggauli istrinya pada saat bepergian tersebut. Hal ini dikarenakan seorang musafir dan orang yang sakit dibolehkan bagi mereka tidak berpuasa, baik itu melakukan hubungan suami istri atau selainnya.

Hal ini berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Hukum wanita pada perkara ini sama dengan hukum bagi laki-laki. Jika seandainya wanita itu dalam kondisi wajib puasa, maka ia harus membayar kafarat dan mengqadha’ puasanya. Namun jika ia sedang berbepergian atau menderita sakit yang menjadikannya berat melakukan puasa, maka tidak ada kafarat atasnya.”

Syaikh Muhammad bin Shlaih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya dalam Fatawa al-Shiyam (344) tentang seorang laki-laki yang menggauli istrinya siang hari di bulan Ramadhan dalam keadaan bepergian.

Beliau menjawab:

“Tidak mengapa ia melakukannya, sebab seorang musafir boleh membatalkan puasanya dengan makan, minum dan melakukan hubungan suami istri. Tidak ada masalah baginya dan tidak perlu membayar kafarat. Akan tetapi wajib baginya berpuasa pada hari yang lain sesuai hari yang ia tinggalkan pada bulan Ramadhan.

Demikian pula bagi seorang wanita jika melakukan hubungan suami istri dengan suaminya. Tidak ada hukuman baginya jika ia sedang melakukan bepergian, bepuasa atau tidak berpuasa.

Adapun, jika wanita itu berada dalam kondisi mukim, maka tidak boleh bagi suaminya meggaulinya,  jika istrinya berpuasa dengan puasa wajib, sebab ia merusak puasanya. Olehnya, wajib bagi wanita itu untuk melarangnya.”

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/50256

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here