Peristiwa 2 Ramadhan : Perang Syaqhab

0
950

Momentum Bersejarah di Bulan Ramadhan

Perang Syaqhab

2 Ramadhan tahun 702 Hijriyah

Pada hari kedua bulan Ramadhan pada tahun 702 Hijriyah terjadilah perang Syaqhab, pertempuran antara kaum muslimin dengan bangsa Mongol, ketika itu tentara Mongol berjumlah lebih dari 100.000 pasukan yang dipimpin oleh Quthlusyah. Mereka telah menempati daerah-daerah di sekitar Kota Hama pada hari Jumat tanggal 23 Sya’ban setahun sebelumnya, bahkan terus bergerak maju ke arah Damaskus dengan tujuan menguasai Negeri Syam, sehingga keluarlah Sultan menuju Damaskus dan berkumpul di sana bersama pasukan dari Syam, Mesir, demikian juga Khalifah saat itu, para penguasa, para ulama dan para sukarelawan. Mereka semua bergerak maju untuk menghadapi tentara Mongol hingga mereka bertemu di Desa Syaqhab, sebuah desa di bagian selatan kota Damaskus.

Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ketika itu berada bersama pasukan kaum muslimin. Ibnu Katsir Rahimahullah menceritakan,

“Orang-orang pada hari sabtu saat itu dalam keadaan sangat sulit dan tertekan, mereka melihat keadaan dari atas menara seakan gelap dan mencemaskan, keadaan pasukan dan bahkan musuh mereka, sehingga mereka yakin bahwa peperangan pasti akan terjadi pada hari itu, mereka pun merendahkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sepenuh hati dengan memohon dan berdo’a di masjid dan di negeri tempat tinggal mereka.

Tampak terlihat para wanita dan anak-anak di jalan-jalan menampakkan kegelisahan pada wajah-wajah mereka, suasana negeri saat itu sangat gaduh, hingga turunlah hujan yang sangat deras, barulah setelah itu keadaan orang-orang mulai tenang, ketika zhuhur usai dibacakanlah sebuah kertas di masjid yang isinya: bahwa tepat pukul dua siang di hari Sabtu itu, berkumpullah balatentara dari Syam dan Mesir bersama Sultan di Marj al-Shuffar, dia meminta agar semua orang berdo’a, dan memerintahkan agar menjaga benteng dan berjaga-jaga di dinding pertahanan. Semua orang pun berdo’a di menara dan di tempat tinggal mereka, hingga siang itu berlalu dan hari itu adalah hari yang menggelisahkan dan mencekam.” [al-Bidayah wa al-Nihayah, terbitan Dar Hijr, Jilid 18, hlm. 26, dan ‘Iqd al-Juman fi Tarikh Ahl al-Zaman, hlm. 418].

Sumber : www.panduanramadhan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here