Hukum Membawa Mushaf Saat Shalat Tarawih

0
39

Soal:

Apakah makmum boleh membawa mushaf ketika shalat tarawih di belakang imam?

Jawaban:

Sebaiknya ia tidak melakukan hal tersebut, namun ia cukup mendengarkan bacaan imam dan diam.

Syekh Abdul Aziz bin Baz –Rahimahullah– pernah ditanya: Bagaimana hukum makmum yang membawa mushaf saat shalat tarawih?

Beliau menjawab:

“Saya tidak mengetahui ada dalil khusus terkait permasalahan ini, namun sepertinya jika ia tidak membawa mushaf, maka ia akan lebih khusyuk dan tenang. Serta meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, sebagaimana yang tertera dalam al-Sunnah. Yaitu meletakkan telapak tangan kanannya di atas punggung telapak kirinya, pergelangan, serta hastanya, dan meletakkan kedua tangannya di atas dadanya. Ini pendapat yang lebih kuat dan baik, sedangkan membawa mushaf akan menyibukkannya dari amalan sunnah tersebut, kemudian menyibukkan hatinya, penglihatannya dari bacaan imam, saat membuka lembaran-lembaran mushaf untuk mengeceknya.

Menurut saya, justru tidak membawa mushaf saat shalat merupakan sunnah, sebaiknya ia menyimak dan diam tidak perlu menggunakan mushaf. Jikalau ia mampu mengoreksi bacaan imam, maka silakan dilakukan, namun jika tidak, maka orang lain yang akan mengoreksinya.

Kemudian, sekiranya imam keliru atau bacaannya tidak dikoreksi oleh makmum, maka hal tersebut tidak masalah, selama bukan pada surat al-Fatihah, hanya pada surat al-Fatihah kekeliruan akan berpengaruh; karena surat al-Fatihah termasuk rukun yang harus sempurna, sedangkan jika imam melewatkan beberapa ayat selain pada surat al-Fatihah, tidak akan berpengaruh pada shalatnya, bila tidak ada orang yang mengingatkannya.

Seandainya satu orang membawa mushaf di belakang imam saat dibutuhkan, barangkali hal ini tidak masalah, tetapi bila setiap orang membawa mushaf, maka ini tindakan yang menyelisihi sunnah.”

Syekh Ibnu Baz –Rahimahullah– juga pernah ditanya:

“Ada sebagian makmum yang membawa mushaf untuk mengikuti bacaan imam, apakah perbuatan ini berdosa?”

Pendapat yang benar menurut hemat saya, ia tidak patut mengerjakan hal tersebut, lebih baik ia fokus dalam shalatnya dan khusyuk, meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, mentadabburi apa yang dibaca oleh imam, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla,

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian mendapat rahmat.” (QS. al-A’raf: 204).

Firman Allah –Subahanahu wa Ta’ala– :

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (1), (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (2).” (QS. al-Mu’minun: 1-2).

Dan berdasarkan sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا

“Sesungguhnya keberadaan imam itu untuk diikuti, jika ia bertakbir maka bertakbirlah, dan bila ia membaca, maka diamlah.” (Lih: Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz, 11/340-342).

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/52876

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here