Apa yang Harus Dilakukan Oleh Penderita Diabetes dan Tekanan Darah Tinggi saat Puasa Ramadhan?

0
68

Soal:

Bolehkah seorang muslim mengganti hari-hari yang dia tinggalkan puasanya dengan menunaikan fidyah, meskipun dia meninggalkan puasa itu dalam keadaan sehat, dengan alasan bahwa dia memiliki penyakit diabetes dan masalah dalam tekanan darah? Apakah fidyah itu cukup dengan memberi makan sekali atau dua kali makan? Orang yang bersangkutan ini bekerja di luar negeri, saat ini dia sedang berada di negaranya sendiri dengan visa untuk satu bulan.

Jawab:

Pertama,

Sakit diabetes dan tekanan darah tinggi memiliki tingkatan stadium. Yang mengerti kondisi pasien secara lebih tepat tentu lah para dokter. Ada pasien yang dianggap aman untuk tetap berpuasa, jika melaksanakannya sesuai petunjuk dan panduan kesehatan yang diberikan. Ada pula yang divonis tidak boleh berpuasa. Memang jika dua jenis penyakit ini menjadi komplikasi, tentu puasa makin berat bagi penderitanya.

Berdasarkan ini, maka seorang pasien hendaknya berkonsultasi dengan dokternya, lalu melaksanakan saran yang diberikan, baik untuk tetap puasa atau meninggalkan puasa. karena tidak semua penyakit menyebabkannya boleh meninggalkan puasa.

Kedua,

Dengan pertimbangan bahwa dua penyakit ini termasuk jenis penyakit yang berlangsung lama, yang mana menurut fakta yang terjadi, bahwa penderita penyakit ini jika sampai pada taraf harus meninggalkan puasa, biasanya mereka tidak akan mampu untuk melaksanakan qadha’ puasa di hari lain. Maka yang wajib bagi mereka adalah menunaikan fidyah, yaitu memberi makan orang miskin sebagai ganti setiap satu hari yang mereka tinggalkan, tidak wajib mengqadha’nya.

Yang dimaksud fidyah berupa sedekah makanan di sini adalah, memberi makan seporsi mengenyangkan. Maka si sakit ini boleh memilih apakah mau membuatkan hidangan, lalu mengundang orang miskin untuk menyantapnya. Atau boleh juga membagikannya dalam bentuk mentah maupun matang. Jika salah satu dari tiga cara ini telah dilaksanakan maka berarti kewajibannya telah ditunaikan.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/222148

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here