Hukum Puasa Bagi Pengidap Penyakit Gula (Diabetes) Dan Kondisi yang Menyebabkannya Boleh Tidak Berpuasa

0
74

Soal:

Sejak empat belas bulan silam saya mengidap penyakit diabetes stadium dua. Ini adalah tingkat di mana asupan insulin tidak diperlukan lagi. Maka saya tidak mengambil tindakan pengobatan apapun. Namun saya mengikuti terapi diet makanan dan membiasakan beberapa olahraga ringan supaya kadar gula darah saya tetap terkontrol.

Pada bulan Ramadhan yang lalu, saya bisa melaksanakan puasa selama beberapa hari. Namun tidak bisa menyempurnakannya sebulan penuh karena kadar gula darah saya naik. Sekarang –alhamdulillah– kondisi saya sudah jauh membaik. Namun jika berpuasa, saya langsung merasakan sakit kepala. Apakah saya tetap harus puasa, meskipun merasakan sakit yang demikian? Lalu, bolehkah saya melakukan check kadar gula darah saat puasa? (Dalam check itu diperlukan pengambilan sampel darah melalui ujung jari)

Jawaban:

Yang disyariatkan bagi orang sakit adalah meninggalkan puasa di bulan Ramadhan, jika memang puasa dirasa sangat berat dijalani atau bahkan akan membahayakan dirinya, atau dia harus melakukan pengobatan di siang hari, misalnya berupa pil atau minuman yang hanya bisa dikonsumsi di siang hari. Ketentuan bagi orang sakit ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan siapa saja yang tengah sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh maka hendaknya mengganti sejumlah (hari yagn dia tinggalkan) itu (untuk dilaksanakan puasa) pada hari-hari lainnya.” (al-Baqarah (2):185)

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan,

 “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (keringanan yang diberikan)-Nya diambil sebagaimana Dia murka jika maksiyat (kedurhakaan kepada)-Nya dilanggar.”

Mengenai pengambilan sampel darah dari ujung jari, untuk bahan uji atau pemeriksaan. Pendapat yang benar adalah bahwa hal itu tidak menyebabkan puasa batal. Namun jika sampel darah yang diambil banyak, maka akan lebih baik jika hal itu ditunda pelaksanaannya hingga malam hari. Jika tetap dilaksanakan di siang hari, maka sebagai langkah kehati-hatian silakan hari itu untuk diqadha’, karena mungkin ada kemiripan dengan praktik hijamah (bekam).” (Lih: Fatawa Islamiyyah Jilid 2 Hal. 139)

Orang sakit bisa berada dalam beberapa kondisi yang berbeda:

Kondisi Pertama; Puasa tidak mempengaruhi sakitnya. Misalnya sakit pilek ringan, atau pusing ringan, sakit gigi dan sejenisnya. Sakit semacam ini tidak boleh meninggalkan puasa. Meskipun sebagian kecil ulama ada yang mengatakan, dia boleh tidak berpuasa berdasarkan keumuman ayat 185 surat al-Baqarah, yang menyebutkan sakit secara umum. Namun kita katakan, bahwa hukum rukhsah (keringanan) tersebut memiliki illat (alasan khusus) yang jelas, yaitu bahwa meninggalkan puasa akan lebih ringan bagi si sakit. Jika memang seperti itu keadaannya, kita katakan bahwa meninggalkan puasa lebih utama. Namun jika puasa sama sekali tidak mempengaruhi sakitnya, maka dia terlarang untuk tidak puasa. Yang ada dia tetap wajib melaksanakannya.

Kondisi kedua; bahwa puasa akan sangat membebaninya meskipun tidak sampai membahayakan dirinya. Maka dalam kondisi ini, tetap berpuasa hukumnya makruh. Sunnahnya adalah meninggalkan puasa.

Keadaan ketiga, Puasa terasa berat untuk dijalani sekaligus membahayakan dirinya. Seperti penyakit syaraf atau sakit diabetes misalnya, lalu puasa akan membahayakan dia. Maka tetap puasa dalam kondisi demikian haram hukumnya. Dengan ini maka kita tahu salahnya pilihan yang diambil oleh sebagian orang yang terlalu semangat, yang mana saat sakit dan terasa berat untuk menjalankan puasa, bahkan mungkin membahayakan dirinya, namun mereka bersikukuh tidak mau meninggalkan puasa, maka kami nyatakan, bahwa mereka ini telah mengambil sikap yang tidak tepat; karena mereka justru menolak kemurahan yang telah Allah berikan, tidak mau menerima rukhshah (keringanan) dari-Nya, bahkan membahayakan diri sendiri. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman,

 “Dan janganlah kalian bunuh diri kalian sendiri.” (al-Nisa’ (4):29)

(Lih: al-Syarh al-Mumti’ karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Jilid 6, Hal. 352-354)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/1319

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here