Bolehkah Tidak Masuk Kerja Karena Shalat Tarawih?

0
27

Soal:

Saya bekerja di pos kepolisian, dan terkadang saya harus bergantian shif sebanyak dua kali dalam sepekan, di saat pergantian shif tersebut saya tidak bila meninggalkan pos, karena harus menjalankan berbagai kepentingan serta tugas dari atasan saya. Apakah saya boleh meninggalkan pos dan tidak melaksanakan perintah atasan, demi berangkat ke masjid terdekat untuk shalat tarawih?

Jawaban:

Tidak diragukan lagi, bahwa semangat yang dimiliki seseorang untuk mencari bekal (akhirat) sebanyak mungkin termasuk faktor yang dapat mendatangkan pahala dan ampunan di bulan Ramadhan, ini merupakan hal terpuji dan dianjurkan, namun dengan syarat, orang tersebut tidak serta-merta melakukan suatu amalan berakibat pada kelalaian terhadap amalan yang lebih utama.

Jika ada orang yang bekerja di dalam tokonya atau sebuah kantor instansi, ia tidak boleh meninggalkan pekerjaannya demi mengerjakan shalat sunnah, lantas bagaimana jika pekerjaannya adalah menjaga keamanan yang merupakan perkara penting berkenaan dengan nyawa banyak manusia dan keamanan mereka?

Janganlah Anda bersemangat untuk mengerjakan amalan sunnah namun melalaikan hal yang wajib. Anda bisa juga mengerjakan shalat tarawih di tempat kerja, silakan Anda atur waktu longgar dan senggang, atau di akhir malam di rumah Anda sendiri. Bisa saja, Allah mencatat amalan Anda sebagai pahala yang sempurna bila niat Anda tulus untuk menjalankannya, meskipun belum mampu untuk mengerjakannya di tempat kerja atau di rumah.

Syekh Muhammad Shalih al-Utsaimin –Rahimahullah– pernah ditanya:

“Saya bekerja di sebuah toko, saya tidak bisa shalat tarawih di masjid, lantaran jam kerja saya dimulai setelah Maghrib sampai sebelum waktu sahur. Apakah perbuatan saya berdosa? Dan amalan apa yang dapat menggantikan pahala (shalat tarawih berjamaah di masjid) yang luput dari saya tersebut?”

Beliau menjawab:

“Anda tidak berdosa walaupun telah meninggalkan shalat tarawih, karena ia hukumnya sunnah. Jika seseorang menunaikannya, maka ia berhak mendapat pahala, namun bila tidak mampu, ia tidak berdosa.

Allah Ta’ala telah mengetahui niat Anda, sungguh jika bukan karena kesibukkan Anda untuk mencari rezeki dengan menjalani pekerjaan itu, niscaya Anda akan menunaikan shalat tarawih. Karunia Allah sangat luas, Allah –Subhanahu wata’ala– akan memberikanmu pahala lantaran niat baik Anda.”  (Lih: Fatawa Islamiyyah, 2/255).

Syekh Abdul Aziz Alu Syekh –Hafizhahullah– pernah ditanya:

“Sebagian orang pergi umrah, ia meninggalkan keluarganya, pekerjaannya, atau masjid tempat ia menjadi imam atau muadzin, bagaimana nasihat Anda untuk mereka?”

Beliau menjawab:

“Kita tidak boleh beribadah mendekatkan diri kepada Allah, yang bersifat sunnah, namun meninggalkan perkara yang wajib. Karena amalan-amalan sunnah tidak boleh dilaksanakan melainkan kita sudah menunaikan amalan-amalan yang wajib. Sehingga, bagi orang yang menelantarkan keluarganya, atau melalaikan pekerjaannya, atau seorang imam yang meninggalkan tugasnya, maka amalan orang-orang seperti ini tidak akan memperoleh pahala, justru mendapat dosa.”

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/50664

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here