Bagi Wanita Hamil, Apakah Tetap Puasa itu Lebih Utama Ataukah Tidak Puasa?

0
66

Soal:

Mana yang lebih utama bagi wanita di masa kehamilan; apakah tetap puasa? ataukah meninggalkan puasa?

Jawaban:

Wanita hamil juga terkena kewajiban untuk berpuasa seperti wanita lainnya. Hanya saja jika dia mengkhawatikan kesehatan diri sendiri atau janinnya, maka dia boleh meninggalkan puasa.

Dalam menafsirkan Firman Allah,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang yang keberatan melaksanakan puasa itu (lalu meninggalkannya)  wajib menggantinya dengan fidyah berupa sedekah makanan untuk orang miskin.”

Ibnu ‘Abbas menyatakan,

“Ayat ini adalah rukhshah (keringanan) bagi lelaki jompo dan wanita tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, maka boleh tidak puasa. dan sebagai gantinya mereka harus bersedekah makanan untuk seorang miskin untuk tiap hari yang mereka tinggalkan. Begitu pula bagi wanita hamil atau menyusui jika mereka mengkhawatirkan bayinya maka boleh meninggalkan puasa, lalu menunaikan fidyah (sedekah makanan).” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud (2317) dan dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab Irwa’ al-Ghalil, 4/18, 25)

Perlu diketahui bahwa meninggalkan puasa bagi wanita hamil, hukumnya bisa jadi hanyaja’iz (boleh), bisa juga menjadi wajib, atau malah haram:

Meninggalkan puasa hukumnya boleh, jika memang puasa bagi ibu hamil ini terasa berat, meskipun tidak sampai membahayakan dirinya.

Hukumnya bisa menjadi wajib, jika puasa yang dilakukan itu berpotensi membahayakan kesehatan dirinya atau keselamatan janinnya.

Dan haram hukumnya meninggalkan puasa, jika bagi si ibu puasa saat hamil tidak dirasa lebih berat dibanding biasanya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyatakan,

“Wanita hamil tidak lepas dari dua kondisi berikut:

Pertama, dia kuat dan tetap gesit bertenaga, tidak menjadi sangat terbebani saat berpuasa, dan tidak berpengaruh pada kesehatan janinnya. Maka wanita ini tetap wajib berpuasa. Sebab dia tidak punya udzur untuk meninggalkan puasanya.

Kondisi kedua, wanita ini tidak mampu menahan beratnya puasa di masa kehamilan. Mungkin badannya terasa sangat capek atau lelah luar biasa dan lain sebagainya. Maka dalam keadaan ini dia boleh meninggalkan puasa. apalagi jika yang dikhawatirkan adalah keselamatan janinnya. Maka saat itu meninggalkan puasa bagi dia hukumnya wajib.” (Lih: Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 1/487)

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah juga menyatakan,

“Wanita hamil dan menyusui memiliki posisi hukum yang sama dengan orang yang sedang sakit. Jika puasa terasa berat dijalani, maka disyariatkan baginya untuk meninggalkan puasa. Namun wajib mengqadha’ puasanya itu di lain hari saat sudah mampu lagi. Sama persis dengan ketentuan untuk orang sakit. Sebagian ulama memang ada yang berpendapat bahwa mereka cukup menggantinya dengan menunaikan fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin sebagai ganti setiap satu hari yang ditinggalkannya. Namun ini pendapat yang lemah dan kurang argumentatif. Pendapat yang benar adalah bahwa mereka wajib mengqadha’, sama seperti musafir atau orang yang sakit. Hal ini berdasar kalam Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka siapa saja diantara kalian yang tengah sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh maka hendaknya mengganti sejumlah (hari yagn dia tinggalkan) itu (untuk dilaksanakan puasa) pada hari-hari lainnya.” (al-Baqarah (2):184)

Termasuk dalil dalam masalah ini adalah hadits riwayat Anas bin Malik al-Ka’biy bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguhnya Allah menghilangkan setengah kewajiban shalat atas musafir. Juga menghilangkan kewajiban puasa bagi musafir, wanita hamil dan ibu menyusui.”

(Lih:“Tuhfah al-Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata’allaqu bi Arkan al-Islam” hal. 171)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/3434

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here