Wanita Hamil Dan Menyusui Tidak Boleh Meninggalkan Puasa Kecuali Jika Ada Kekhawatiran Terhadap Dirinya Sendiri Atau Anaknya

0
61

Soal:

Saya pernah membaca sebuah hadits, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah menggugurkan kewajiban berpuasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui.”

Apakah itu berarti bahwa puasa tidak wajib bagi mereka meskipun tidak terasa berat?

Jawaban:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (2408), al-Tirmidzy (715), al-Nasa’iy (2315), juga Ibnu Majah (1667) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاةِ وَالصِّيَامَ  وَعَنْ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِع

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menghilangkan setengah kewajiban shalat atas musafir. Juga menghilangkan kewajiban puasa bagi musafir, wanita hamil dan ibu menyusui.” (Hadits ini dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab Shahih Abi Dawud).

Hadits ini secara mutlaq mencakup semua wanita hamil. Hanya saja para ulama memberikan batasan bahwa hal itu khusus jika puasa terasa berat. Sesuai dengan illat(alasan khusus) yang mendasari syariat hukumnya, yaitu bolehnya wanita hamil meninggalkan puasa.

Mirip dengan hal ini adalah penyebutan “orang sakit” secara mutlaq di dalam ayat tentang puasa,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan siapapun yang tengah sakit atau sedang mengadakan perjalanan jauh maka hendaknya mengganti sejumlah (hari yang dia tinggalkan) itu (untuk dilaksanakan puasa) pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah (2):185)

Kata itu bisa mencakup sakit apa saja, termasuk sakit ringan. Sebagian ulama salaf juga ada yang mengambil makna luas ini seperti Imam Atha’. Imam Bukhari juga memilih makna tersebut. Namun mayoritas ahli ilmu lainnya menolak pemahaman demikian. Termasuk imam empat madzhab. Mereka menetapkan batasan untuk ayat tersebut, dengan ketentuan bahwa itu khusus sakit yang menimbukan keberatan. Sebagai aplikasi keberadaan illat (alasan khusus) yang menyebabkan adanya syari’at boleh meninggalkan puasa.

Ada banyak nash-nash valid dari para Ulama yang menerangkan pembatasan ini, bahkan ada yang menukil bahwa hal itu telah menjadi kesepakatan ulama, sebagaimana akan disebutkan nanti.

Pertama, kita sebutkan dalil dari kalangan ulama salaf. Abu Dawud (2318) meriwayatkan tafsir dari Ibnu ‘Abbas untuk firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib atas orang yang keberatan menjalani puasa itu (lalu meninggalkan puasa) untuk menunaikan fidyah (berupa sedekah) makanan untuk orang miskin.”

Beliau mengatakan,

“Ayat ini maksudnya adalah rukhsahah (keringanan) bagi lelaki jompo dan wanita tua renta yang tidak mampu melakukan puasa, maka boleh meninggalkan puasa. sebagai gantinya tiap hari yang mereka tinggalkan, mereka harus memberi makan seorang miskin. Begitu juga wanita hamil dan ibu menyusui jika ada kekhawatiran.” Imam Nawawy berkomentar: sanad hadits ini hasan.

Di sini jelas, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu memberikan batasan bagi wanita hamil dan ibu menyusui dengan adanya kekhawatiran. Beliau hanya tidak membatasi apakah kekhawatiran itu terkait diri si wanita sendiri atau terhadap anaknya.

Imam al-Syafi’i meriwayatkan dalam kitab al-Umm, beliau menyebutkan, kami mendapat kabar dari Malik, dari Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar ditanya tentang seorang wanita hamil jika dia mengkhawatirkan janinnya. Maka ibnu Umar menjawab,

“Dia tidak perlu puasa, tapi wajib menggantinya dengan memberi makan seorang miskin sejumlah satu mud berupa gandum biji untuk setiap hari yang dia tinggalkan.”

Imam al-Bukhary menyebutkan, “Bab firman Allah “أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ” (hari-hari yang berbilang) . . . Imam al-Hasan, dan Ibrahim berpendapat mengenai wanita hamil dan ibu menyusui, jika memang ada kekhawatiran baik terhadap diri si ibu sendiri atau terhadap anaknya. Maka mereka boleh meninggalkan puasa, lalu menggantinya dengan menunaikan fidyah.”

Demikianlah pembatasan hukum yang bersumber dari ulama salaf; Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar juga al-Hasan dan al-Nakha’iy

Yang kedua, Madzhab Imam Empat yang terkemuka. Mereka pun telah bersepakat tentang adanya pembatasan ini:

Pertama, Madzhab Hanafi:

Al-Jash-shash dalam kitab Ahkam al-Qur’an (1/244) setelah menyebutkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut;

إنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ

Sesungguhnya Allah menghilangkan setengah kewajiban shalat atas musafir. Juga menghilangkan kewajiban puasa bagi musafir, wanita hamil dan ibu menyusui.”

Dia menambahkan, “Sudah dimaklumi bahwa rukhsah (keringanan) bagi dua orang ini (yaitu wanita hamil dan ibu menyusui) tergantung pada adanya kekhawatiran dengan bahaya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap anaknya.”

Dia juga menyatakan di kitab yang sama (1/252),

“Wanita hamil dan ibu menyusui tidak terlepas dari kekhawatiran bahwa puasa akan membahayakan dirinya sendiri atau terhadap bayinya. Kekhawatiran mana pun yang dia rasakan, maka dia lebih baik tidak puasa. Karena tetap berpuasa dalam kondisi seperti itu dilarang. Namun jika memang tidak ada kekhawatiran sama sekali, mereka pun wajib tetap berpuasa. Dan meninggalkan puasa hukumnya terlarang.”

Kedua, Madzhab Maliki:

Disebutkan dalam Syarah Mukhtashar Khalil (2/262),

“Wanita hamil jika khawatir janinnya akan gugur, atau merasa snagat terganggu jika harus berpuasa maka wajib meninggalkan puasa. jika dia takut terjadi cacat atau bakal sakit, dia juga boleh meninggalkan puasa menurut pendapat yang diakui. Bahkan dinyatakan, “Dia wajib meninggalkan puasa jika takut terjadi kecaatan. Demikian juga ibu menyusui jika takut bayinya meninggal atau akan sangat menderita maka wajib meninggalkan puasa. jika khawatir bayinya akan sakit atau menjadi cacat maka dia boleh untuk tidak berpuasa. Ini dengan catatan bahwa si bayi tidak mau menyusu kepada orang lain. Jika bisa disusukan kepada orang lain maka dia tetap wajib berpuasa.”

Ketiga, Madzhab Syafi’i:

Imam al-Syafi’i menyatkan dalam kitab al-Umm,

“Wanita hamil jika khawatir terhadap janinnya boleh tidak puasa. begitupula ibu menyusui, boleh tidak puasa jika puasa akan mengganggu produksi ASI nya secara jelas. Namun jika berkurangnya masih dalam taraf aman maka tidak boleh meninggalkan puasa. Puasa memang mengurangi produksi ASI pada sebagian ibu. Namun terkadang berkurangnya masih bisa ditolerir. Jika memang mengkhawatirkan barulah mereka boleh meninggalkan puasa.”

Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ (6/274) menyebutkan,

“Sahabat kami di kalangan ulama Madzhab Syafi’i menyatakan, “Wanita hamil dan menyusui jika khawatir puasa akan membahayaan dirinya maka dia boelh meninggalkan puasa, namun wajib mengqadha’ puasanya. Dia tidak boleh menggantinya dengan fidyah. Sama persis dengan orang sakit (yang diharapkan bisa mengqadha’). Ini semua tidak diperselisihkan lagi. Namun jika mereka mengkhawatikan dirinya sendiri sekaligus bayinya, maka hukumnya juga demikian tanpa diperselisihkan, bahkan al-Darimy, al-Sarkhasiy, juga yang lainnya telah menyatakan hal itu dengan lugas. Begitu pula jika yang dikhawatikan hanyalah bayinya bukan dirinya sendiri, maka mereka boleh tidak puasa, namun wajib mengqadha’. Hal ini tidak diperselisihkan . . . ”

Keempat, Madzhab Hambali:

Ibnu Muflih menyatakan dalam kitab al-Furu’ (3/35),

“Tetap berpuasa bagi wanita hamil dan menyusui hukumnya makruh jika dikhawatirkan akan mendatangkan bahaya bagi diri sendiri maupun bayinya.”

Ibnu ‘Aqil menyebutkan, “Jika wanita hamil atau menyusui mengkhawatikan janin atau bayi yang disusui maka tidak halal untuk tetap berpuasa. Yang wajib adalah menunaikan fidyah. Namun jika tidak ada kekhawatiran, maka haram meninggalkan puasa.”

Syaikh al-islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa (25/218) menyatakan, “Jika wanita hamil mengkhawatirkan janinnya. Maka dia boleh tidak puasa. . . . dan seterusnya”

Kelima, Madzhab al-Dzahiriy:

Ibnu Hazm dalam kitab al-Muhalla (4/411) menyatakan,

“Wanita hamil, ibu menyusui, dan lelaki jompo semuanya adalah orang yang wajib berpuasa. Maka melaksanakan puasa ramadahan adalah kewajiban mereka. Maka jika ibu menyusui ini mengkhawatirkan bayi yang disusuinya, karena ASInya berkurang dan anaknya akan terlantar karena tidak orang lain untuk menyusuinya, atau dia menolak susuan orang lain. Juga ibu hamil yang mengkhawatirkan janinnya. Juga lwlaki jompo yang tidak mampu lagi berpuasa karena sudah terlalu tua. Maka mereka oleh meninggalkan puasa . . ..”

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (28/55) juga tertulis,

“Para Fuqaha’ telah sepakat bahwa wanita hamil dan ibu menyusui boleh meninggalkan puasa di bulan ramadhan. Dengan syarat bahwa ada kekhawatiran timbulnya sakit pada diri sendiri atau pada bayinya. Atau takut sakitnya bertambah, teganggu kesehatannya, atau bahkan meninggal. Janin bagi seorang wanita hamil sama seperti bagian tubuhnya sendiri. Maka merawat dan menyayanginya sama wajibnya dengan mengurusi anggota tubuhnya sendiri.”

Al-Syaukani dalam kitab Nail al-Awthar (4/273) menyebutkan dalam keterangan tentang hadits gugurnya kewajiban puasa bagi wanita hamil dan menyusui, sebagai berikut,

“Hadits tersebut menunjukkan bahwa bagi wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa. Para pakar fiqih berpendapat seperti itu, jika memang ada kekhawatiran dalam diri si ibu terhadap bayi yang disusuinya atau janin yang dikandungnya. Para ulama bahkan menegaskan, “dalam kondisi tersebut, mereka wajib meninggalkan puasa.”

Dalam Fatawa al-Lajnah al-Da’imah (10/226) juga disebutkan,

“Wanita hamil wajib melaksanakan puasa di masa kehamilannya, kecuali jika dikhawatirkan puasa akan membawa akibat buruk bagi dirinya atau bagi janinnya. Jika begitu, maka diberikan rukhshah (keringanan) baginya untuk tidak berpuasa. Lalu dia wajib mengqadha’nya setelah persalinan nantinya, tentunya setelah lepas masa nifasnya.”

Kesimpulannya bahwa wanita hamil tidak boleh meninggalkan puasa selagi puasanya tidak dirasa berat dilaksanakan.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/66438

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here