APAKAH SAAT MENGUSAP KEPALA DALAM BERWUDHU, AIR HARUS SAMPAI KE KULIT KEPALA?

0
48

Soal:

Saya mempunyai rambut yang panjang dan tebal. Ia sangat lebat. Karena itu, saya sangat yakin bahwa air wudhu tidak sampai ke kulit kepala saya. Namun saya juga sangat tidak mau kehilangan rambut saya atau mencukurnya. Karena itu, apa yang harus saya lakukan?

 

Jawaban:

Agama kita yang lurus ini dibangun di atas dasar memberikan kemudahan dan menghapuskan kesulitan. Maka dalam hukum-hukum Syariat, Allah tidak pernah menetapkan sesuatu yang akan menyulitkan kita dan menyempitkan hati kita akibat terlalu berat dan ketidakmudahannya. Karena itu, Allah Ta’ala mensyariatkan untuk mengusap kepala dalam wudhu, mengusap pembalut luka serta mengusap kedua khuf. Dan ketika Allah menyebutkan tentang tayammum dalam KitabNya yang mulia, Ia mengatakan:

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Tidaklah Allah menghendaki untuk menetapkan kesulitan untuk kalian. Namun Ia ingin mensucikan kalian dan menyempurnakan nikmatNya atas kalian, agar kalian bersyukur.” (al-Ma’idah: 6)

 

Kedua:

Mengusap kepada saat berwudhu itu memiliki 2 cara:

Pertama: dengan meletakkan kedua tangan setelah membasahinya dengan air pada bagian depan kepala sampai ke bagian belakang kepala, lalu kembali dengan kedua tangannya ke bagian depan kepalanya. Cara ini sesuai dengan orang yang memiliki rambut yang pendek.

Cara kedua: dengan mengusap seluruh bagian kepala, namun dengan mengikuti arah rambut, sehingga ia tidak mengubah bentuk/posisi rambut. Cara ini sesuai dengan orang yang memiliki rambut yang panjang –pria maupun wanita-.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau pernah ditanya: bagaimana seorang wanita dan seorang pria yang mempunyai rambut panjang seperti wanita, mengusap rambutnya (saat berwudhu)? Beliau menjawab:

“Jika ia mau, ia dapat mengusap seperti yang diriwayatkan dari al-Rubayyi’ –lalu beliau menyebutkan haditsnya- (dimana) ia berkata: ‘…begini (caranya)’, lalu ia meletakkan tangannya di bagian tengah kepala, lalu menggesernya ke bagian depan kepala, lalu ia mengangkatnya (tangan) kemudian meletakkannya di posisi semula ia memulai (yaitu: di bagian tengah kepala), lalu menggesernya ke bagian belakang (kepala)nya.”

 

Ketiga:

Yang disyariatkan saat mengusap kepala dalam berwudhu adalah dengan mengusap rambut kepala dan tidak harus menyampaikan air itu ke kulit kepala.

Syekh Ibn Baz rahimahullah pernah ditanya:

“Jika saya menggunakan henna (daun pacar) di kepala, apakah itu akan menghalangi sampainya air ke kulit kepala? Apakah cukup dengan mengusap di atasnya saat berwudhu?”

Beliau menjawab:

“Pendapat yang benar adalah bahwa jika pada kepala itu ada benda-benda yang menempel, seperti henna (daun pacar) dan yang lainnya, maka ia cukup mengusapnya dan itu sudah memadai –walhamdulillah-, sebagaimana yang disampaikan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dahulu mereka menggunakan benda-benda yang menempel itu di kepala mereka, lalu mereka (cukup) mengusapnya.” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darb, 5/113)

Beliau juga pernah ditanya: apakah seorang wanita wajib menyela-nyelai rambutnya saat berwudhu? Beliau menjawab:

“Ia tidak berkewajiban menyela-nyelai rambutnya. Bahkan ia cukup melewatkan air pada rambutnya dan itu sudah cukup.” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darb, 5/114)

Dalam hal ini, pria dan wanita sama saja.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

“Bersuci untuk kepala (baca: rambut) adalah bersuci yang diringankan/dimudahkan, dengan dalil bahwa tidak wajib membasuhnya, yang wajib justru cukup mengusapnya meskipun rambutnya tipis. Bahkan meskipun tidak rambut di atas kepala samasekali, maka bersucinya ringan saja, tidak ada selain mengusapnya. Karena itu, dimudahkan pula (mengusap) apa yang dikenakan di atasnya. Itulah sebabnya, seseorang diperbolehkan mengusap sorbannya meskipun ia dapat mengangkatnya dan mengusap (langsung) kepalanya. Namun ini untuk meringankan.” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darb, oleh Ibnu ‘Utsaimin)

Beliau juga mengatakan:

“Dalam mengusap itu tidak dipersyaratkan air harus sampai ke kulit kepala. Bahkan cukup dengan mengusap permukaan rambut, baik dengan cara menggenggam semua (bagian)nya, atau dengan membiarkannya dengan posisi semula.” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Ibnu Utsaimin)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/198392

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here