APAKAH SEBELUM BERWUDHU HARUS MENGHILANGKAN MINYAK YANG ADA PADA TANGAN KARENA PENGOBATAN?

0
71

Soal:

Kami mengetahui bahwa yang menggunakan minyak akan menghalangi sampai airnya sampai ke kulit. Dan itu membatalkan wudhu. Tapi pertanyaan: apa hukum orang yang menggunakan minyak pada kepala atau kedua tangannya (untuk mengobati) penyakit yang ada di tempat itu? Apakah ia harus membersihkan minyak tersebut lalu berwudhu? Atau ia cukup berwudhu sesuai kondisi?

 

Jawaban:

Pertama:

Jika minyak tersebut digunakan pada rambut kepala, maka itu tidak menghalangi sahnya wudhu berdasarkan pendapat yang shahih. Meskipun tidak ada penyakit di situ, karena mengusap kepala dalam berwudhu dibangun di atas dasar keringanan. Namun jika itu dalam proses mandi junub atau haid, maka ia harus dibersihkan karena air harus sampai ke rambut dan akarnya saat mandi wajib.

 

Kedua:

Jika minyak ini digunakan pada kulit tangan, atau kaki, atau wajah, maka fisiknya harus dihapuskan. Maksudnya: menghapuskan lapisan minyak yang ada pada anggota tubuh itu agar air dapat benar-benar sampai ke anggota tubuh itu.

 

Ketiga:

Jika penggunaan minyak pada kulit itu karena satu alasan –seperti sakit atau yang semacamnya-, dan jika dihapuskan akan menyebabkan mudharat atau kepayahan yang pasti: maka (orang yang berwudhu) cukup melewatkan air pada anggota tubuh tersebut dan mengusapnya, baik saat berwudhu ataupun mandi junub. Sehingga hukum minyak tersebut sama dengan hukum balutan/perban (pada luka), dimana keberadaannya tidak menjadi masalah karena adanya alasan/udzur.

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (15/108) disebutkan:

“Dan sama dengan hukum mengusap pada balutan/perban adalah mengusap pada kain pelapis atau plester, atau obat apapun yang diletakkan pada luka-luka yang dapat menghalangi sampainya air, seperti minyak atau semacamnya.”

 

Keempat:

Jika tidak memungkinkan untuk mengusap pada anggota tubuh yang memakai minyak atau obat, dan tidak memungkinkan memakai plester padanya agar mengusap pada plester tersebut: maka ia dapat membasuh anggota-anggota tubuh lain yang sehat, lalu bertayammum untuk anggota tubuh yang sakit.

Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan:

“Jika pada wajah ada penyakit kulit dan dokter telah meresepkan minyak oles untuk digunakan dengan pesan bahwa itu tidak dapat disentuh air selama beberapa jam agar minyak itu tetap tinggal untuk mengobati: maka dalam kondisi ini ia menghindarkan air (pada area itu) saat berwudhu, lalu membasuh anggota tubuh lain dan bertayammum –sebagai pengganti basuhan- untuk wajah, sampai hajatnya menggunakan minyak itu selesai. Wallahu a’lam.” (Lih: al-Muntaqa min Fatawa al-Syaikh al-Fauzan, 4/9-10)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/202874

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here