BERNIAT MEMPERBAHARUI WUDHU, LALU TERINGAT KALAU IA BERHADATS: APAKAH WUDHUNYA SAH?

0
83

Soal:

Jika saya menjaga wudhu yang saya gunakan untuk shalat maghrib, lalu saat masuk waktu Isya dan saya berwudhu dengan niat memperbarui wudhu, kemudian saya shalat. Ternyata setelah shalat, saya baru sadar bahwa saya telah berhadats antara Maghrib dan Isya, padahal saya berwudhu hanya dengan niat memperbarui wudhu (bukan bersuci dari hadats-penj).

Apakah saya harus berwudhu sekali lagi dan mengulangi shalat Isya saya? Ataukah wudhu saya dengan niat memperbarui wudhu itu sudah cukup?

 

Jawaban:

Para ulama berbeda pendapat tentang orang yang berwudhu dengan niat memperbarui bersucinya dan lupa jika sedang berhadats, kemudian ia tersadar bahwa ia sedang berhadats: apakah bersucinya (baca: wudhunya) sah? Ada 2 pendapat:

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:

“Dan jika ia berniat memperbarui thaharahnya, lalu ternyata ia telah berhadats, apakah bersucinya itu sah? Ada 2 riwayat (pendapat): yang pertama: bahwa ia sah, karena ia adalah bersuci yang dilakukan secara syar’i, sehingga sepatutnya ia mendapatkan apa yang ia niatkan (yaitu: bersuci-penj). Juga berdasarkan hadits dan mengqiyaskan pada kasus jika ia berniat menghapuskan hadats.

(Riwayat pendapat) kedua: bahwa bersucinya tidak sah, karena ia tidak berniat untuk menghapuskan hadats serta apa yang tercakup olehnya. Sama seperti jika ia (berwudhu) dengan niat (hanya untuk) mendinginkan badan.” (Lih: al-Mughni, 1/83)

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Jika ia berwudhu untuk berhati-hati, kemudian ternyata ia sudah berhadats, maka apakah wudhu (yang dilakukan dengan niat berjaga-jaga-penj) itu sah (untuk menghapus hadatsnya-penj)?

Dalam hal ini ada 2 pandangan yang masyhur di kalangan (ulama Syafi’iyyah) dari Khurasan: pandangan yang paling shahih adalah bahwa itu tidak sah, karena ia berwudhu dalam kondisi niat yang tidak jelas, karena ia tidak memastikan (niatnya) untuk menghapus hadats. Dan ketidakjelasan niat itu menghalangi keabsahannya di luar kondisi darurat.

Pandangan kedua: bahwa itu sah, karena ia adalah sebuah thaharah yang diperintahkan (secara syara’), lalu bertemu dengan hadats, sehingga ia dapat menghapuskan (hadats) itu.

Dan pendapat yang dipilih adalah pandangan yang pertama.” (Lih: al-Majmu’, 1/331)

 

Khalil al-Maliky rahimahullah mengatakan dalam Mukhtasharnya (hal. 19) –saat ia menyebutkan contoh-contoh wudhu yang tidak dapat menghapus hadats dan tidak dapat mencukupkan untuk yang fardhu-:

“…atau ia memperbarui (wudhu)nya, lalu ternyata ia telah berhadats…”

Syekh ‘Ulaisy dalam Syarah-nya (1/86):

“(Atau) ia yakin bahwa ia telah berwudhu lalu (ia memperbarui) wudhunya dengan niat wudhu sunnah atau fardhu, (lalu terbukti) baginya setelah memperbarui wudhu itu (bahwa ia berhadats) sebelum memperbarui wudhu, maka wudhu tersebut tidak sah untuknya, karena tidak adanya niat untuk menghapuskan hadats, dan karena yang sunnah itu tidak dapat menggantikan yang fardhu.”

 

Namun pendapat yang paling kuat dari kedua pendapat ini adalah bahwa bersuci (thaharah)nya sah, begitu pula shalatnya; karena itu adalah bersuci yang disyariatkan dan bertemu dengan hadats, sehingga dapat mengangkat/menghapusnya. Dan ini adalah madzhab Hanabilah (Hanbaly). (Lih. Al-Raudh al-Murbi’, 1/195).

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Seseorang yang mengerjakan shalat Zhuhur dengan satu wudhu, lalu setelah shalat wudhu itu batal, kemudian ia memperbarui wudhunya untuk shalat Ashar tapi ia lupa bahwa telah berhadats; maka (dengan wudhu yang diperbarui itu-penj) hadatsnya dapat terhapus, karena ia telah berniat untuk melakukan sunnah memperbarui wudhu meskipun lupa pada hadatsnya.

Namun jika ia mengingat bahwa ia berhadats (tapi tidak meniatkan wudhunya untuk mengangkat hadats itu-penj), karena dengan begitu ia telah bermain-main (dengan niatnya); sebab bagaimana ia berniat memperbarui wudhunya sementara ia sendiri tidak dalam keadaan berwudhu/suci? Karena yang namanya ‘memperbarui’ itu tidak dapat dikerjakan kecuali jika seseorang telah berada dalam keadaan suci (terlebih dahulu).” (Lih: al-Syarh al-Mumti’, 1/199-200)

Syekh Khalid al-Musyaiqih menjelaskan:

“Apabila ia mengerjakan shalat dengan wudhu yang pertama, lalu ia mengalami hadats sesudahnya, kemudian tiba waktu shalat yang kedua, lalu ia berkata: ‘Saya ingin memperbarui wudhu’, kemudian ia pun wudhu (dengan niat) memperbarui wudhu, lalu setelah itu ia teringat bahwa ia telah berhadats, maka kita katakan padanya: bahwa sekarang (setelah memperbarui wudhu-penj) hadats Anda terangkat, karena memperbarui (wudhu) adalah sesuatu yang disyariatkan.” (Lih: Syarh Kitab al-Thaharah min Kitab ‘Umdah al-Thalib, hal. 91-penomoran Maktabah Syamilah).

Namun jika ia bersikap hati-hati untuk ibadahnya dalam kasus seperti ini, lalu mengulangi wudhu dan shalatnya sesudah itu –demi menghindarkan diri dari perbedaan pendapat para ulama-, maka itu lebih baik in sya’aLlah.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/208968

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here