HUKUM BERBICARA SAAT SEDANG BERWUDHU

0
71

Soal:

Apa hukum berbicara dan mengobrol pada saat berwudhu?

 

Jawaban:

Boleh saja bagi seseorang berbicara pada saat berwudhu, karena tidak adanya larangan untuk melakukan itu secara syara’, dan hukum asal pada setiap perbuatan itu adalah mubah.

Hukum makruh yang dinukil dari sebagian ulama rahimahumullah terkait dimakruhkannya berbicara saat berwudhu itu dalam pengertian tidak afdhal (utama), bukan dalam pengertian makruh secara syar’i. Artinya: bahwa lebih utama seorang yang sedang berwudhu untuk tidak berbicara saat berwudhu jika tak ada kebutuhan.

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Sunnah-sunnah dan anjuran-anjuran wudhu itu di antaranya adalah…-lalu beliau menyebutkan-…: dan tidak berbicara saat melakukannya tanpa ada keperluan.

Al-Qadhi ‘Iyadh menukil dalam Syarh Shahih Muslim bahwa para ulama memakruhkan pembicaraan saat wudhu dan mandi wajib. Namun kemakruhan yang dinukilnya ini adalah kemakruhan yang mengarah pada meninggalkan yang utama, karena jika tidak demikian tidak ada larangan untuk (melakukannya), sehingga ia tidak disebut sebagai ‘makruh’ kecuali dalam pengertian ‘meninggalkan yang utama’.” (Lih: al-Majmu’, 1/490-491)

 

Syekh Ibnu ‘Utsaimin pernah ditanya tentang (hukum) berbicara saat berwudhu, apakah ia makruh?

Beliau rahimahullah menjawab:

“Berbicara pada saat sedang berwudhu tidaklah makruh, namun sebenarnya ia menyibukkan orang yang berwudhu, karena seorang yang berwudhu sepatutnya pada saat membasuh wajahnya menghadirkan rasa bahwa ia sedang menjalankan perintah Allah. Juga pada saat ia membasuh kedua tangan, mengusap kepala dan membasuh kedua kaki, ia sepatutnya menghadirkan niat ini. Sehingga jika ada seseorang yang mengajaknya berbicara dan ia meladeninya, upaya menghadirkan rasa itupun terputus dan juga mungkin akan mengganggunya. Bahkan bisa jadi ia menjadi was-was karenanya. Sehingga yang lebih utama adalah ia tidak berbicara sampai selesai berwudhu. Tapi jikapun ia mengobrol, maka ia tidak berdosa.” (Lih: Fatawa Nur ‘ala al-Darb, oleh Ibnu Utsaimin)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/212452

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here