WANITA YANG SAKIT TIDAK BISA MENUNDUK UNTUK MEMBASUH KEDUA KAKINYA

0
52

Soal:

Saya pernah terancam bahaya melahirkan dini padahal usia kandungan saya baru 6 bulan. Alhamdulillah, saya menjalani pengobatan, dokter menyuruh saya untuk tinggal di tempat tidur (bedrest) dan tidak bangun kecuali untuk membuang hajat. Dan saat ini, saya mengerjakan shalat, makan dan melakukan apa saja sambil berbaring di tempat tidur.

Saya pernah membaca bahwa cukup bagi saya bertayammum sebagai ganti daripada harus bangun untuk berwudhu. Apalagi jika saya harus berwudhu setiap waktu shalat karena adanya cairan lembab (pada kemaluan).

Tapi saya juga membaca bahwa siapa yang memungkinkan untuk berwudhu pada bagian (tubuh yang lain), hendaknya ia melakukannya lalu bertayammum pada anggota tubuh yang lain. Dalam kesempatan tertentu: saat saya ke kamar mandi bertepatan dengan waktu shalat.

Pertanyaan saya adalah:

Apakah saya harus berwudhu atau mandi jika bangun (dari tempat tidur) –baik karena hadats kecil ataupun besar-, lalu bertayammum untuk kaki saya, karena itulah bagian yang paling sulit karena akan menekan perut dan rahim saya?

Ataukah saya harus meminta kepada ibu yang merawat saya sekarang untuk membasuh kaki saya, meskipun itu berat bagi saya untuk memikirkannya?

Ataukah saya mencukupkan dengan membasuh kaki dengan kaki yang lain, meskipun itu tidak akan menutupi semua bagiannya-terutama yang ada di antara jari-jarinya-? Apakah basuhan satu kali sudah cukup untuk masing-masing kaki?

Apakah saya berdosa jika melahirkan sebelum waktunya, hingga membahayakan janin saya disebabkan saya memaksakan diri untuk sesekali berwudhu dan mandi, dan tidak bertayammum?

 

Jawaban:

Pertama:

Perintah-perintah yang diperintahkan Allah, dilakukan oleh seorang muslim apa yang mampu dilakukannya, dan yang tidak mampu dilakukannya itu digugurkan darinya dan ia tidak dituntut untuk mengerjakannnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka bertakwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian.” (al-Taghabun: 16)

Syaikh Abdurrahman al-Sa’di rahimahullah mengatakan:

“Allah Ta’ala memerintahkan untuk bertakwa padaNya, yaitu menjalankan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, lalu mengikatnya dengan kesanggupan dan kemampuan.

Sehingga ayat ini menunjukkan bahwa setiap kewajiban yang tidak disanggupi oleh hamba, maka itu digugurkan darinya, dan bahwa jika mampu melakukan sebagian perintah itu dan tidak mampu mengerjakan sebagiannya, maka ia melaksanakan apa yang ia mampu dan yang tidak mampu dikerjakannya digugurkan darinya. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Bila aku memerintahkan kalian sebuah perintah, maka kerjakanlah sekemampuan kalian.’” (Lih: Taisir al-Karim al-Rahman, hal. 868)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Aku pernah mendengarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Apabila aku melarang kalian terhadap sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku memerintahkan kalian sesuatu, maka kerjakanlah apa yang kalian mampu.’” (HR. Al-Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:

“Dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘jika aku memerintahkan kalian sesuatu, maka kerjakanlah apa yang kalian mampu’ terdapat dalil yang menunjukkan bahwa siapa yang tidak sanggup melakukan perintah secara keseluruhan dan mampu melakukan sebagiannya, maka ia hendaknya mengerjakan yang memungkinkan darinya. Ini berlaku dalam beberapa masalah:

Di antaranya dalam bersuci. Maka jika ia hanya mampu mengerjakan sebagiannya, dan tidak mampu mengerjakan sisanya: baik karena ketiadaan air, atau karena sakit pada sebagian anggota tubuh, maka ia melakukan apa yang mampu dikerjakan dan bertayammum untuk (anggota tubuh) lainnya; baik dalam berwudhu ataupun mandi berdasarkan pendapat yang masyhur.” (Lih: Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, 1/256)

Maka jika Anda tidak mampu menunduk untuk membasuk kedua kaki Anda dengan tangan, cukuplah Anda menuangkan air pada keduanya dan memastikannya sampai ke semua bagian kaki. Barangkali ini yang mampu Anda lakukan, dan Anda tidak harus mengulangi basuhan itu 3 kali, juga tidak harus menggosoknya dengan tangan, sebab menggosok tidaklah wajib menurut Jumhur ulama.

Begitu pula menyelai-nyelai jari-jemari. Jika air telah masuk di antara jemari, maka ini sudah cukup. Menyelai-nyelai jemari dalam situasi ini adalah sunnah menurut Jumhur ulama.

Anda juga dapat memasukkan air dalam bejana, lalu memasukkan kaki Anda ke dalam air itu hingga air itu sampai ke kedua mata kaki. Ini juga sudah cukup.

Jika Anda tidak mampu melakukan ini sendiri, maka tidak mengapa Anda meminta tolong pada ibu Anda atau selainnya. Dan ini tidaklah merupakan adab yang buruk, karena Anda memintanya tidak lain karena kondisi kesehatan yang Anda alami.

Kemudian memasukkan air ke dalam bejana itu sama seperti memberikan bantuan dalam berwudhu. Itu lebih halus daripada (meminta ibu Anda) membasuh kaki –jika Anda merasa berat meminta hal itu pada ibu Anda-; maka (memasukkan air dalam bejana-penj) sudah memenuhi tujuan yang diinginkan, in sya’aLlah.

Jika ternyata Anda tidak mampu melakukan itu semua, maka dalam situasi ini Anda disyariatkan untuk bertayammum untuk kedua kaki Anda.

 

Kedua:

Mengerjakan rukshah (keringanan) bagi yang membutuhkannya adalah sebuah ketetapan syariat dan dicintai oleh Allah Ta’ala.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

‘Sesungguhnya Allah mencintai jika keringanan-keringananNya dikerjakan, sebagaimana Ia benci jika perbuatan durhaka padaNya dikerjakan.” (HR. Ahmad, 10/107, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil, 3/9).

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Maka keberpalingan seorang mukmin dari jalan kependetaan, sikap berlebihan dan menyiksa diri dengan yang tidak disukai Allah (dengan melakukan) keringanan-keringanan yang dicintai Allah: adalah salah satu kebaikan yang akan diberikan pahala oleh Allah atasnya.” (Lih: Majmu’ al-Fatawa, 10/462)

 

Ketiga:

Adapun melekatkan kemudharatan pada diri atau pada orang lain tanpa seizin Sang Penetap syariat, maka itu –tidak diragukan lagi- sesuatu yang diharamkan. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian kepada kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

Syaikh Abdurrahman al-Sa’diy rahimahullah mengatakan:

“Menjatuhkan diri dalam kebinasaan itu terpulang pada 2 hal: meninggalkan apa yang diperintahkan pada sang hamba –jika dengan meninggalkannya akan menjatuhkan atau nyaris membinasakan badan atau ruh-, dan melakukan apa yang dapat menyebabkan kebinasaan jiwa atau ruh. Sehingga di dalamnya masuk banyak hal…diantaranya: jika seseorang menjerumuskan dirinya dalam hal yang membunuh, atau perjalanan yang mengerikan, atau tempat yang berisi hewan buas atau ular berbisa, atau menaiki pohon tinggi atau bangunan yang berbahaya, atau masuk ke bawah sesuatu yang mengandung bahaya dan semacamnya. Yang ini dan semacamnya termasuk orang yang menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan. (Lih. Taisir al-Karim al-Rahman, hal. 90)

 

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah terhadap kalian itu Maha Penyayang.” (al-Nisa’: 29)

Maksudnya: janganlah kalian membunuh satu dengan yang lain, dan janganlah seseorang membunuh dirinya sendiri.

Atas dasar ini, maka Anda tidak boleh melakukan sesuatu yang dapat menjadi sebab mendatangkan mudharat terhadap diri Anda atau janin. Sehingga jika dokter memberikan saran medis untuk tidak banyak bergerak atau bahwa mandi akan membahayakan janin, maka Anda cukup melakukan tayammum saat itu.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/222832

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here