Ketika Candamu Menyakitkan Hati

0
272

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”.
Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya, kamu selalu berolok-olok?”. [QS. at Taubah : 65].

Masih segar dalam ingatan kita beberapa hari terakhir ini , sebuah video pendek tersebar maya menampilkan lawakan dua orang laki-laki , disebut sebagai ‘comedian’ dan masyarakat umum akrab dengan istilah ‘stand-up comedy’. Ada yang asyik menertawakan ayat Al-Qur’an tentang hewan yang diharamkan untuk dimakan sambil tertawa terbahak-bahak, ada yang sibuk menghina ulama, merendahkan hadist dan lain sebagainya.
Maka Berbicara tentang lawakan/ komedi, bukanlah hal yang baru, sejarah stand-up comedy dimulai sejak abad 18 di Eropa dan Amerika.

Dalam sejarahnya perkembangan stand up comedy juga ditemui di berbagai benua. Di dunia, terutama di Amerika Serikat, stand-up comedy sudah berlangsung sejak lama. Bahkan ada yang menyebutkan sudah ada sejak abad ke-18. Makin berkembang di tahun 1960-an dengan banyak modus yang diinginkan dari komedian mulai dari yang hanya sekadar menghibur hingga yang terjerumus dengan unsur SARA; rasis, kritik politik dan lain sebagainya. Model komedinya pun bermacam-macam ada yang beradegan teater hingga melibatkan musik didalamnya.

Lalu bagaimana dengan stand-up comedy Indonesia? Usia nya barangkali tidak setua stand-up comedy Amerika namun karena menjadi ‘barang baru’ di kalangan masyarakat umum saat itu dan hingga kini lawakan tunggal atau stand-up comedy masih menjadi tontonan segar pembasmi kegalauan anak muda.

Penulis tidak ingin mengurai satu per satu siapakah nama komedian yang telah lama eksis dengan komedi tunggalnya bahkan hingga kini masih mampu mempertahankan ‘ruh komedi’ yang dilakoninya. Beberapa komedian ada yang berhasil menghibur juga mengedukasi, menghibur juga menasehati, menghibur juga menyadarkan, menghibur juga memotivasi serta hal-hal positif lainnya.

Namun ironis, lawakan tunggal yang kini telah menjadi ’bahan komersil’ dan terkenal dengan sentuhan kreativitas tinggi , daya imajinasi tanpa batas dan pemikiran out of the box telah menjadi satu entitas yang kehilangan arah dan tujuan. Berdalih ‘ibadah’ tujuannya agar siapapun bisa tertawa lebar namun anehnya menjadi ‘gamang’ karena nilai-nilai dan norma-norma kesopanan sert agama yang harus ditabrak sana-sini demi mempertahankan eksistensi lawakan agar yang menonton tertawa terbahak-bahak hingga nyaris terpingkal-pingkal.

Mengurai satu persatu bahan komedi yang kebablasan dan dilakukan oleh komedian yang notabene adalah muslim , menjadikan bahan lawakan yang ‘menginjak-injak syariat’ seharusnya perlu mendapatkan perhatian besar bagi kaum muslimin. Logikanya bagaimana mungkin syariat yang dijadikan acuan kehidupan itu harus menjadi bahan ‘candaan’ ? bagaimana mungkin hati bisa terhibur dengan candaan yang sangat tidak berbobot dan bermanfaat itu? Kecuali hanya mengiris hati, sebab sangat nyata kebodohan dan sikap apatis dari orang-orang yang melegalkan syariat sebagai bahan cemohan berbungkus lawakan.

Jika kita pernah mendengar atau membaca bagaimana kisah seorang ahli bid’ah yang di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berkata dengan nada memperolok-olok ketika disampaikannya satu hadist “ Bila salah seorang diantara kalian bangun dari tidurnya, janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejana, sebelum ia mencucinya, karena ia tidak tahu di mana posisi tangannya ketika ia tidur.” “[Muttafaq ‘alaih, al-Bukhari 162, dan Muslim 278].

Lalu dengan bangga Ahli Bid’ah tersebut berkata dengan nada memperolok-olok, ”Aku tahu di mana posisi tanganku ketika tidur, ia (tanganku) berada di ranjang!” Maka keesokan harinya (ketika ia bangun tidur) ternyata ia telah memasukkan tangannya hingga siku ke dalam duburnya.Astagfirullah waatubu’ilaih.

Kisah dengan makna yang sama. Ketika “Ada seorang laki-laki yang makan di samping Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Maka saat itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Dia menjawab: ’ Aku tak bisa.’ Beliau bersabda: ” Semoga kamu tak bisa” Tidak ada yang menghalanginya makan dengan tangan kanan kecuali karena sombong. Perawi berkata: Dia (orang itu) tidak bisa mengangkat tangannya ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2021)

Hadits di atas adalah dua contoh hukuman dan balasan yang disegerakan bagi orang-orang yang mudah meremehkan syariat, memperolok-olok agama dan menuhankan logika. Karena kesombongan dan sikap meremehkan syariat maka kelak jika tidak didunia hukuman Allah akan berlaku di akhirat. Percayalah. Wallahu’alam.

Oleh: Fauziah Ramdani
(Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here