Boleh Menggunakan Peralatan Modern untuk Melihat Bulan Sabit (Awal Bulan)

0
97

Pertanyaan:

Apakah boleh berpedoman dengan perhitungan observatorium astronomi untuk menetapkan masuk atau keluarnya bulan hijriyah? Apakah diperbolehkan memakai peralatan modern untuk melihat bulan sabit, ataukah harus melihat dengan mata telanjang?

Jawaban:

Alhamdulillah. Metode syar’i untuk menetapkan masuknya awal bulan adalah dengan cara melihat bulan sabit (hilal). Dan selayaknya orang-orang yang memantau hilal itu adalah orang-orang yang komitmen pada agama serta memiliki penglihatan yang tajam. Kalau ada di antara mereka yang melihat hilal, maka harus hasil rukyat itu harus diamalkan; baik dengan berpuasa -jika itu adalah awal bulan Ramadhan- atau dengan berlebaran -jika itu adalah awal bulan Syawal-.

Dan tidak boleh mengandalkan perhitungan astronomi semata jika hilal tidak tampak.

Tapi jika ternyata hilal tampak walaupun itu dilakukan oleh observatorium astronomi, maka rukyat itu tetap diakui, karena keumuman hadits Rasulullah sallallahu ’alaihi wasallam,

إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا

“Berpuasalah ketika kalian melihatnya (hilal), dan berlebaranlah ketika kalian melihatnya (hilal).”

Adapun semata mengandalkan metode hisab, maka hal itu tidak boleh dan tidak bisa dijadikan sandaran.

Berkenaan dengan penggunaan teleskop -yaitu teropong yang bisa mendekatkan penglihatan ke arah bulan sabit-, maka tidak apa-apa, meskipun bukan merupakan suatu kewajiban. Karena makna yang ditunjukkan oleh sunnah adalah bahwa yang dijadikan patokan adalah penglihatan biasa, tanpa menggunakan alat lain. Akan tetapi kalau alat ini digunakan dan bulan terlihat oleh orang yang dapat dipercaya, maka rukyatnya dapat ditindaklanjuti.

Di masa lalu, orang-orang juga menggunakannya dengan cara menaiki menara-menara menjelang malam 30 Sya’ban dan malam 30 Ramadhan. Mereka melihatnya bersama-sama dengan menggunakan teropong.

Apapun itu, yang penting setelah terbukti kalau memang benar ada yang melihat hilal dengan cara apapun, maka rukyatnya harus ditindaklanjuti. Berdasarkan keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا ، وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا

“Berpuasalah ketika kalian melihatnya (hilal), dan berlebaranlah ketika kalian melihatnya (hilal).”

(Fatwa Ulama’ al-Balad al-Haram hal. 192-193)

Al-Lajnah al-Daimah li al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ memfatwakan,

“Diperbolehkan menggunakan alat teropong untuk melihat bulan sabit, tetapi tidak boleh hanya bersandar pada data astronomi dalam menentukan awal Ramadhan atau berlebaran“. (Lihat Fatawa al-Lajnah al-Daimah, 9/99 ).

Dengan demikian, jelaslah bahwa mereka yang mengklaim bahwa para ulama kita mengharamkan penggunaan peralatan modern untuk melihat hilal dan mewajibkan dengan mata telanjang semata adalah dusta dan mengada-ada.

Kita memohon kepada Allah semoga diberikan petunjuk untuk mengetahui kebenaran dan dapat mengikutinya. Dan diberi taufiq untuk mengetahui kebatilan lalu menjauhinya. Dan jangan sampai ada hal-hal yang samar yang akhirnya menjadikan kita tersesat. Semoga Allah menjadikan kita sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://islamqa.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here