HARUSKAH MELEPASKAN SILIKON SAAT BERWUDHU DAN MANDI WAJIB?

0
123

Soal:

Saya ingin bertanya tentang silikon –yaitu bahan yang digunakan untuk menutupi rambut seperti plastik dan bahan ini menghalangi air-. Apakah diharuskan membersihkan bahan tersebut dari rambut? Bagaimana pula hukum shalat saya sekarang ini karena bahan ini baru dapat dihilangkan satu bulan kemudian? Apakah harus menggunakan sampo sebelum menggunakan bahan-bahan yang menghalangi air?

Jawaban:

Tidak mengapa menggunakan bahan silikon untuk mengobati rambut jika tidak mengandung mudharat.

Tidak harus dihilangkan pada saat berwudhu, namun itu harus dilakukan saat mandi wajib karena bersih dari haid atau junub.

Hal itu karena wudhu dibangun di atas dasar keringanan dan yang dituntut dari melakukannya adalah mengusapnya saja bukan membasuhnya. Karena itu, maka dibolehkan mengusap di atas sorban dan di atas hijab seorang wanita. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah meminyaki rambutnya saat menunaikan haji, dan itu menyebabkan adanya lapisan di atas rambut yang menghalangi sampainya air (saat berwudhu).

Sedangkan untuk mandi wajib, maka dipersyaratkan untuk menyampaikan air sampai ke seluruh bagian rambut hingga kulit kepala, sehingga diharuskan menghilangkan bahan ini saat akan mandi.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“(Seorang yang berihram) tidak terlarang untuk meminyaki (rambutnya) dengan minyak atau madu untuk merapikan dan menyatukan rambutnya. Maksudnya tidak mengapa menggunakan minyak dan madu di rambut agar tidak berantakan dan menjadi rapi.

Dan sudah dimaklumi bahwa jika ia melakukan hal ini, maka minyak dan madu ini akan menghalangi sampainya air ke rambut, tapi itu tidak mengapa. Karena itu, dibolehkan mengusap sorban (saat berwudhu) meskipun itu menghalangi (air) langsung sampai ke kepala. Itu diringankan pada bagian kepala, tapi tidak pada bagian tangan, wajah dan kaki, karena hukum asalnya mensucikan kepala itu diberikan kelonggaran dan tidak diwajibkan padanya kecuali mengusapnya.

Atas dasar itu, maka kami mengatakan:

Jika seorang wanita mengusap rambutnya dengan hena (daun pacar): apakah ia harus mengusapnya saat berwudhu? Atau kita katakan: ia harus menghapuskan hena tersebut? (Maka jawabnya): tidak mengapa ia mengusapnya meskipun hena tersebut menghalangi air menyentuh langsung (kepalanya). (Lih: Syarh al-Kafi)

Beliau rahimahullah juga pernah ditanya:

“Apakah hukum mengusap hena yang diletakkan pada rambut saat berwudhu?”

Beliau menjawab:

“Tidak mengapa, meskipun (hena) itu menghalangi sampainya air, namun saat mandi junub dan bersih dari haid harus dihapuskan.

Dalil yang menunjukkan bahwa yang pertama itu tidak mengapa dilakukan adalah: bahwa Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam ihramnya di Mekkah pernah meminyaki rambutnya –yaitu dengan menggunakan minyak atau madu atau yang semacamnya, agar tidak berantakan-, sebagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda saat ditanya: ‘Wahai Rasulullah! Mengapa Anda tidak memotong pendek rambut Anda –maksudnya seusai umrah- dan bertahallul sebagaimana orang-orang bertahallul?’ Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya saya telah membawa hewan hadyu dan meminyaki rambutku, maka saya tidak bertahallul sampai saya menyembelih kurban.’

Maka hena (daun pacar) di kepala, meskipun menghalangi sampainya air (pada kepala), itu tidak mengapa saat berwudhu. Namun saat mandi junub atau (bersih dari) haid, maka itu harus dihilangkan.” (Lih: al-Liqa’ al-Syahri 14/68)

Wallahu a’lam.

Sumber: https://islamqa.id/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here