JIKA MASUK WAKTU SHALAT: HARUSKAH BERWUDHU ATAU CUKUP DENGAN WUDHU SEBELUMNYA?

0
92

Soal:

Pada beberapa kesempatan ketika waktu shalat masuk, saya tidak terlalu yakin jika saya dalam kondisi berwudhu atau tidak? Dalam kondisi ini: apakah saya wajib berwudhu saja atau saya anggap saja bahwa saya masih dalam kondisi berwudhu?

Jawaban:

Pertama:

Dianjurkan bagi seorang muslim untuk memperbaharui wudhunya setiap waktu shalat, meskipun tidak batal dan wudhu itu berada di antara 2 waktu shalat. Dalil yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 214), dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu pada setiap kali waktu shalat.” Dalam riwayat al-Tirmidzy (no. 58) ada tambahan: “…baik dalam keadaan suci ataupun tidak suci.”

Kedua:

Kasus yang Anda sebutkan bahwa waktu shalat telah masuk dan Anda tidak terlalu yakin: apakah Anda masih dalam kondisi berwudhu atau tidak?

Kasus ini ada 2 kondisi:

Kondisi pertama: keraguan itu tidak didahului oleh tindakan bersuci yang meyakinkan, tapi posisi bersuci sebelum terjadinya keraguan tersebut masih sebuah kemungkinan (belum pasti).

Contohnya: Anda tertidur sesudah shalat subuh, lalu Anda bangun tidur pada pukul 9 pagi misalnya. Lalu masuk waktu shalat Zhuhur, dan Anda tidak tahu apakah Anda sudah berwudhu sebelum bangun tidur atau tidak?

Maka dalam kondisi ini dikatakan: Anda wajib berwudhu, karena hukum asalnya Anda tidak dalam keadaan bersuci.

Contoh yang sama dengan itu adalah jika misalnya Anda masuk ke dalam kamar mandi, lalu masuk waktu shalat, tapi Anda tidak yakin: apakah Anda sudah berwudhu sesudah masuk kamar mandi itu atau tidak?

Maka di sini dikatakan: Anda wajib berwudhu, karena kondisi hadats ada dalam kedua situasi ini: kondisi tidur dan masuk kamar mandi sangat meyakinkan, sementara berwudhu menjadi sesuatu yang merugikan, sehingga tidak dapat menjadi pegangan.

Kondisi kedua: jika Anda merasa yakin dengan tindakan bersuci yang dilakukan sebelumnya, kemudian Anda meragukan terjadinya hadats sesudah tindakan bersuci tersebut.

Contohnya adalah: jika Anda usai mengerjakan shalat Dhuha pada pukul 10 pagi misalnya. Lalu Anda sibuk hingga masuk waktu shalat Zhuhur. Dan Anda tidak ingat: apakah wudhu Anda sudah batal di antara shalat dhuha itu hingga shalat Zhuhur, atau tidak batal?

Di sini dikatakan bahwa Anda tidak harus berwudhu, karena hukum asalnya kondisi bersuci Anda masih berlaku sampai Anda mengetahui bahwa ia batal.

Kaidahnya di sini adalah: bahwa “keyakinan itu tidak bisa dihapuskan hanya dengan keraguan” dan bahwa “prinsip dasarnya: kondisi yang ada sebelumnya akan tetap berlaku seperti sebelumnya”.

Sehingga siapa yang yakin bahwa ia telah berhadats dan ragu apakah sesudah hadats itu ia pernah berwudhu atau tidak, maka hukum asalnya ia masih berhadats dan harus bersuci karenanya.

Namun siapa yang yakin bahwa ia sudah bersuci, lalu ia ragu: apakah bersucinya batal atau tidak sesudah itu, maka ia dianggap masih dalam keadaan bersuci dan tidak harus memperbaharui wudhunya, sampai ia mengetahui bahwa ia telah berhadats.

Dalil yang menunjukkan kaidah ini adalah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari (no. 137) dan Muslim (no. 361), dari Sa’id bin al-Musayyib dan ‘Abbad bin Tamim, dari pamannya, bahwa seorang pria yang merasa mengalami sesuatu dalam shalatnya pernah mengadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda:

لَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

“Janganlah ia meninggalkan (shalatnya) sampai ia mendengarkan suara atau mencium baunya.”

Juga diriwayatkan oleh Muslim (no. 362), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

‘Apabila seorang dari kalian merasakan sesuatu dalam perutnya, lalu ia menjadi ragu: apakah keluar sesuatu atau tidak, maka janganlah ia keluar dari mesjid sampai ia mendengarkan suara atau mencium bau.’”

Al-Nawawi mengatakan:

“Hadits ini menjadi salah satu prinsip dasar Islam dan sebuah kaidah Fiqih yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu itu dihukum tetap berada dalam prinsip/kondisi asalnya, sampai ada keyakinan yang menyelesihi itu, dan keraguan yang terjadi padanya samasekali tidak menjadi masalah baginya.” (Lih: Syarh Shahih Muslim, 4/49)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:

“Dan siapa yang merasa yakin (masih) dalam keadaan suci dan ragu apakah ia mengalami hadats, atau merasa yakin mengalami hadats dan ragu apakah ia sudah bersuci; maka ia harus berpegang pada apa yang diyakininya dalam kedua kondisi tersebut.

Maksudnya: jika ia tahu bahwa ia sudah berwudhu, lalu ragu apakah sudah berhadats atau tidak, maka ia harus berpegang bahwa ia masih dalam keadaan bersuci.

Dan jika ia dalam keadaan berhadats, lalu ia ragu apakah sudah berwudhu atau belum? Maka hukumnya ia masih dalam keadaan berhadats.

Dalam kedua kondisi ini, ia harus berpegang pada apa yang ia ketahui (dengan pasti) sebelum terjadinya keraguannya, dan mengabaikan keraguan itu…” (Lih. Al-Mughni, 1/126)

Wallahu a’lam.

Sumber: https://islamqa.id/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here