Resensi Buku "Ideologi Kaum Intelektual" – 1

0
48
Buku Ideologi Kaum Intelektual terdiri dari 5 bagian. Bagian pertama adalah pengantar dari Jalaluddin Rakhmat. Di bagian ini, Jalaluddin rakhmat memulai pengantarnya dengan sebuah narasi. Tragedi yang terjadi 10 Muharram 61 Hijriyah. Ritual peringatan wafatnya Cucu Rasulullah SAW. Sebuah peristiwa yang dikenal dalam doktrin syiah sebagai Peristiwa Karbala. Jalaluddin Rakhmat dengan piawai memainkan emosi pembaca lewat peristiwa ini kemudian dibarengi dengan kemunculan dan kepahlawanan Al Syari’ati sebagai penggerak Revolusi Islam di Iran, Tahun 1978. Sebuah revolusi yang menumbangkan rezim Shah Pahlevi kepada kepemimpinan seorang Ayatollah. Revolusi yang berdarah. Revolusi yang mendengungkan “Mihrab Syi’ah adalah Mihrab Darah!”. “Dalam hidup syiah, tiap hari adalah Asyura; setiap tempat menjadi Karbala”.
Secara terpisah, di Bagian kedua bercerita tentang peradaban dan kebudayaan. Di bagian ini Syari’ati menguraikan perbedaan antara peradaban dan kebudayaan. Dimana menurutnya, – mengutip pendapat – pendapat Aime Cessaire – bahwa peradaban itu sifatnya universal, sedangkan kebudayaan itu adalah identitas kolektif yang bersifat ‘lokal’.
Para pemikir besar menjadikan jalinan hubungan antara peradaban dan kebudayaan dengan konsep yang berbeda antara satu dengan yang lain. Pada bagian ini, Syaria’ti menunjukkan bahwa peradaban berdiri sendiri, tidak terhubung dengan kebudayaan.
Secara umum peradaban dimaknai sebagai akumulasi dari hasil dan proses material dan spiritual suatu masyarakat. Dan kebudayaan adalah hasil cipta rasa dan karsa manusia. Dalam defenisi ini, Syari’ati menunjukkan bahwa kebudayaan adalah hasil dari proses kemanusiaan dalam lingkup sastra, agama dan sosial. Sedangkan peradaban lebih kepada unsur – unsur teknik dan produk ilmu – ilmu eksak.
Salah satu Fenomena peradaban jika kita ambil contoh, misalnya adalah roda. Semua roda sama. Setiap peradaban menggunakan roda yang sama. Karena itu, roda bukanlah milik peradaban tertentu. Sehingga menurutnya, peradaban yang ada adalah peradaban manusia. Demikian halnya handphone. Handphone tidak bisa diklaim sebagai hasil peradaban barat (semata), karena handphone adalah produk evolutif dari produk sebelumnya yang ditemukan oleh peradaban sebelumnya.
Sementara di sisi yang lain, kebudayaan bekerja sebagai pemberi identitas. Dan kebudayaan-lah yang mendorong transisi atau perubahan sosial. Sebab ia adalah manifestasi dari kesadaran kolektif suatu masyarakat. Ia adalah pembeda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.
Dalam fenomena inilah kita bisa menemukan seseorang yang menggunakan produk peradaban seperti handphone tetapi tidak berlaku untuk kebudayaan. Kebudayaan tidak bisa dikonsumsi secara universal, sebab ia adalah manifestasi dari kesadaran kolektif suatu kelompok etnis atau bangsa tertentu yang datang kepada kita sejak masa lampau.[1]
Hasil kebudayaan juga tidak ditemukan. Sementara hasil peradaban itu ditemukan. Alkohol ditemukan oleh Rhazez, sementara kita tidak mengetahui siapa yang menemukan puisi. Mesin jahit, bola lampu, silet dan lain – lain ditemukan, sementara kita tidak tahu siapa yang pertama kali melawak, siapa yang pertama kali berpikir secara filosofis. Sebab kebudayaan lahir bersama dengan lahirnya manusia dan masyarakat. Kebudayaan ada sejak lahirnya manusia dan masyarakat.
Karena itulah menurut Ali Syariati, kebudayaan adalah modal utama bagi perubahan sosial. Bahkan ia adalah aset paling berharga bagi manusia individu dan masyarakat. Sebab teknologi yang merupakan produk peradaban seperti motor, mobil, mesin jahit, serta handphone bila direbut dari suatu masyarakat, maka masyarakat itu akan tetap hidup dalam tujuan dan falsalah hidupnya. Berbeda dengan kebudayaan. Kebudayaan jika dirampas, maka inilah yang akan menjadi awal kehancuran suatu kelompok masyarakat. Sebab ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Secara sederhana, ide tentang rancangan arsitek bangunan jika dicuri dari seorang artitek lewat laptopnya, itu tidaklah masalah. Sebab ide itu masih ada dalam kepalanya. Tetapi jika yang diambil adalah kebudyaan, maka ia akan menjadi orang tuna-budaya. Bermetamorfosa dan hancur. Sebab ia kehilangan identitas dan jatidirinya.
Lalu dimana letak peradaban dan kebudayaan. Fenomena keduanya bisa saja berada pada satu objek. Misalnya rancangan arsitek sebuah masjid adalah produk budaya, sedangkan cita rasa keindahannya adalah kebudayaan.
Menurut saya sendiri, jika kita bandingkan dengan Pendapat Prof. Al-Attas, kata peradaban terambil dari kata adab yang padanan kata dalam bahasa arab-nya adalah tamaddun. Tamaddun dari kata maddana-yumaddinu-madinah yang artinya kota. Sehingga menurut penulis, peradaban sebenarnya juga bisa merupakan identitas. Dan bagi kalangan filsuf, peradaban adalah identitas. Karena itu kita mengenal peradaban islam, peradaban cina, peradaban barat, dan lain – lain. Dan menurut penulis sendiri, peradaban yang hakiki adalah peradaban yang menegakkan adab. Karena itu sebenarnya peradaban barat, bukanlah sebuah peradaban hakiki. Sebab ia tidak punya visi peradadaban sama sekali. Filsuf sepeti Fritjof Chapra mengkritik modernisme barat dengan berbagai ekses negatif dari kemajuan peradaban itu. Ilmu demi ilmu menemukan kemajuan. Namun di sisi lain, lingkungan semakin rusak, manusia teralienasi (terasingkan) dari dunia dan kebudayaannya. Serta manusia semakin menurun harkat, derajat dan martabatnya sebagai manusia. Pameran kontes kecantikan adalah contoh kecil industrialisasi dan komersialisasi tubuh perempuan. Eksploitasi atas nama estetika dan modernitas.
* * * * * *
Lalu siapa yang membangun masyarakat ?. Kata Syari’ati. Para Arsitek mengatakan mereka yang membangun Peradaban. Sebab Peradaban Mesir kini dikenal karena Piramidanya. Di sisi yang lain, para saintis mengatakan bahwa yang membangun masyarakat adalah sains. Para sastrawan mengatakan sastra. Para agamawan mengatakan agama. Para dokter mengatakan ilmu kesehatan.
Bagi Syaria’ti, yang membangun masyarakat adalah ideologi. Sebab ideologi adalah kesadaran tentang identitas kolektif masyarakat atau kelompoknya. Siapa yang mencetuskan masa pencerahan di barat, di abad pertengahan ?. Siapa yang mencetuskan perubahan di China melalui revolusi Mao Tse Dong ?. Siapa yang mencetuskan perubahan – perubahan lain di masyarakat yang lain ?. jawabannya adalah orang yang memiliki kesadaran atas identitas kelompoknya.
Karena itulah agama di barat, tidak lagi menjadi identitas sentral dalam peradaban mereka. Sebab identitas barat yang memuji adn memuja akal meletakkan agama sebagai tidak lebih dari pandangan – pandangan subjektif. Para intelektual Barat-lah yang memiliki kesadaran identitas yang melihat pertentangan antara masyarakat bawah dan masyarakat atas yang kemudian melahirkan revolusi.
Tulisan – tulisan dalam bab ini ingin mengarahkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa perubahan itu dibuat oleh mereka yang memiliki ideologi dan bekerja keras mewujudkan idelogi itu dalam membangun tatanan masyarakat baru. Tanpa kata – kata ‘revolusi’ dalam bab ini, Syaria’ti mengisyaratkan secara halus bahwa yang bisa merubah masyarakat adalah revolusi yang dilakukan oleh para ideolog.
Ia kemudian memaparkan masyarakat islami yang disebut dengan masyarakat madinah. Dimana masyarakat madinah dibuat oleh seorang ideolog atau aktivis yang bernama Muhammad SAW. Nabi Muhammad bukan saintis, bukan filsuf yang duduk dalam singgasannya dan memproduk ide  – ide dan tulisan serta pemikiran. Melainkan ia adalah orang yang turun langsung merasakan ‘bau keringat’ masyarakatnya yang terpinggirkan untuk mewujudkan tauhid dan keadilan. Muhammad SAW ikut berperang dan merasakan bagaimana penderitaan ummatnya.
Secara sederhana, Syaria’ti inigin menunjukkan kepada kita bahwa apa yang mendorong Nabi Muhammad SAW untuk melakukakan sebuah tajdid(pembaharuan) wajah masyarakat adalah karena pertentangan kelas.
Pemikiran ini jelas bercorak Marxisme – Sosialisme. Dimana sebuah masyarakat baru diwujudkan oleh karena adanya kesenjangan antara kalangan proletar dan borjuis. Mengapa Syaria’ti melihat ini ?. Saya bisa menyimpulkan setidaknya secara geografis, Iran adalah negara yang paling dekat dengan negara terbesar yang menganut lahirnya ideologi ini, Rusia. Apalagi sejak awal, Syaria’ti telah besentuhan dengan karya – karya Marxis. Kemudian diperkuat dengan kajiannya dalam studi Pascasarjananya di Perancis melalui teori – teori sosial deterministik. Melalui bagian ini Syaria’ti ingin menyampaikan bahwa, hanya revolusi-lah yang bisa mengubah arah dan wajah masyarakat.
 Dibagian ketiga yang berjudul “Ideologi dan kaum intelektual”, Syaria’ti ingin mendudukkan pembaca bahwa jika anda telah menjadi seorang ideolog, maka ideologi yang anda pegang akan membuat anda berkorban. Sebab ideologi akan mengundang pengorbanan diri.
Apa itu ideologi ?. Ideologi adalah ide tentang ilmu atau gagasan tentang ilmu. Ideologi berbeda dengan ilmu. Meski keduanya saling terkait erat.
Ilmu menurut Syaria’ti hanya memberikan pengetahuan tentang citra mental dari dunia fisik dan gejala – gejalanya. Ilmu bercerita tentang hal  – hal yang konkrit. Ilmu adalah penemuan tentang alam, manusia, maupun satuan lainnya. Dimana orang yang berilmu mengetahui kenyataan yang sebenarnya saling terkait seperti sebuah cermin. Saling terhubung tapi tidak saling mempengaruhi[2]. Hukum – hukum gravitasi diungkapkan oleh Newton, tapi Newton tidak punya kemampuan untuk mengubah hukum itu. Ia hanya mengungkapkan sesuai fakta dan realitasnya. Seperti itulah gambaran ilmu.
Lalu, dimana posisi ideologi ?. Ideologi bertugas menafsirkan realitas itu, menurut Syaria’ti. Idelogi mengungkap fakta dan menilai apakah ini harus atau tidak harus. Apakah itu benar atau tidak. Dan selanjutnya mengubah realitas itu.
Dalam bagian ini pula, Syaria’ti mmberikan penjelasan perbedaan antara Filsafat, Ideologi dan Sains. Menurutnya, yang punya kontribusi besar dalam mengubah arah dan wajah masyarakat adalah Ideolog (kita mungkin bisa menyebutnya Aktivis), bukan filsuf maupun saintis. Sebab saintis dan filsuf hanya menyampaikan gagasan – gagasannya. Tidak bekerja mewujud dampak sosial dari hasil pemikiran dan temuannya. Filsuf dan saintis bekerja setelah ideolog bekerja. Sebab ideolog-lah yang membangun lanskap masyarakat dimana filsuf dan saintis berkarya.
Pada bagian ini, Syaria’ti hendak memperteguh kepada pembaca bahwa siapapun yang telah memilih ideologi (islam dan cabang pemikirannya) haruslah bekerja keras dengan semua potensinya untuk berkorban dan mewujudkan ideologi itu. Dalam bagian ini pula, ia mengkiritik secara halus rezim monarki Shah Pahlevi sebagi Syiah Syafawi. Sebuah wajah syiah yang berbeda dari ‘syiah Ali’. Syaih syafawi adalah pembauran tiga unsur utama, yang itu syiah, nasionalisme dan sufisme. Inilah yang  menjadi ciri khas rezim saat ia hidup.
Melalui tulisan – tulisan sebelumnya, Syaria’ti hendak mengajak pembaca bahwa rezim yang ada sekarang adalah rezim yang tak ubahnya seperti kaisar – kaisar Eropa pada abad pertengahan yang hidup bergelimang kemewahan di atas kesengsaraan rakyat. Parahnya lagi para agamawan berlindung dan mendukung kebijakan – kebijakan rezim dengan menggunakan ayat – ayat suci untuk melindungi kekuasaan yang korup dan zalim saat itu.
Ini adalah pertentangan besar dalam diri seorang Syaria’ti. Sebab ia lahir dan tumbuh di kalangan masyarakat bawah. Ia melihat dan merasakan secara jelas, bagaimana kesengsaraan rakyat terjadi karena kezaliman rezim.
Di bagian inilah Syaria’ti ingin bercerita. Bahwa yang bisa menyelesaikan ketidakadilan itu adalah hanya para ideolog. Dimana secara kebudayaan Iran, telah mewarisi syiahsme. Sebuah identitas yang tidak bisa dipisahkan dari wilayah serta sejarah dan kebudayaan kerajaan Persia yang telah diruntuhkan oleh Islam. Iran menunjukkan diri sebagai sebuah republik islam. Dimana islamnya adalah Syiah. Dan islam syiah adalah identitas yang khas yang merupakan pilihan kebudayaan masyarakat. Inilah yang ia sebut dengan ideologi itu. Ideologi Islam. Tetapi agama islam tidak sampai di situ. Agama Islam yang ter-ideologi-sasi dalam sebuah penerimaan secara sadar dan tanpa paksaan. Dia-lah islam Syiah. Islam Syiah yang terideologisasi, tepatnya.

Oleh : Syamsuar Hamka


[1] Ideologi Kaum Intelektual, Hlm. 44
[2] Ideologi Kaum Intelektual, Hlm 72 – 73

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here