Resensi Buku "Ideologi Kaum Intelektual" – 2

0
41
Melalui tulisan – tulisan sebelumnya, Syaria’ti hendak mengajak pembaca bahwa rezim yang ada sekarang adalah rezim yang tak ubahnya seperti kaisar – kaisar Eropa pada abad pertengahan yang hidup bergelimang kemewahan di atas kesengsaraan rakyat. Parahnya lagi para agamawan berlindung dan mendukung kebijakan – kebijakan rezim dengan menggunakan ayat – ayat suci untuk melindungi kekuasaan yang korup dan zalim saat itu.
Ini adalah pertentangan besar dalam diri seorang Syaria’ti. Sebab ia lahir dan tumbuh di kalangan masyarakat bawah. Ia melihat dan merasakan secara jelas, bagaimana kesengsaraan rakyat terjadi karena kezaliman rezim.
Di bagian inilah Syaria’ti ingin bercerita. Bahwa yang bisa menyelesaikan ketidakadilan itu adalah hanya para ideolog. Dimana secara kebudayaan Iran, telah mewarisi syiahisme. Sebuah identitas yang tidak bisa dipisahkan dari wilayah serta sejarah dan kebudayaan kerajaan Persia yang telah diruntuhkan oleh Islam. Iran menunjukkan diri sebagai sebuah republik islam. Dimana islamnya adalah Syiah. Dan islam syiah adalah identitas yang khas yang merupakan pilihan kebudayaan masyarakat. Inilah yang ia sebut dengan ideologi itu. Ideologi Islam. Tetapi agama islam tidak sampai di situ. Agama Islam yang ter-ideologi-sasi dalam sebuah penerimaan secara sadar dan tanpa paksaan. Dia-lah islam Syiah. Islam Syiah yang terideologisasi, tepatnya.
Pada bagian ini pula, Syaria’ti mengkritik hasil peradaban barat. Salah satunya adalah konsep ilmu secara epistemologis. Dimana ia mengkritik konsep ilmu barat yang mengangungkan netralitas ilmiah. Netralitas yang menurutnya menjadikan ilmu untuk ilmu, sastra untuk sastra dan seni untuk seni.[1]Ilmu menjadi jauh dari masyarakat. Serta berkembang dan terpisah dari kebutuhan masyarakat.
 
Barat berhasil memisahkan ilmu dengan ideologi. Sehingga netralitas ilmiah menyebabkan jenius – jenius , fisikawan – fisikawan, psikolog – psikolog menjadi budak sewaan dan tentara kapitalisme diktator dunia.[2]Dengan demikian kita melihat, jurnal – jurnal serta seminar – seminar yang ada tidak punya dampak sosial yang signifikan. Ia hanya menjadi ajang pertunjukan yang lepas dari realitas sosial yang ada.  Di bagian ini Syaria’ti mengkritik keras sains yang diasuh di bawah rahim kapitalisme.
Sehingga kritikannya kepada Barat dan Kapitalisme berujung pada sebuah kesimpulan bahwa untuk merubah itu semua diperlukan lahirnya kaum yang ia istilahkan dengan Rausyhan Fikr. Kalangan intelektual. Kelompok yang Tercerahkan. Yang dalam bahasa Jalaluddin Rakhmat, Ulil Albab. Bahwa ideologi itu harus dibawa oleh kelompok ini. Mereka itulah yang disebut oleh Syaria’ti sebagai kalangan Nabi dan Rasul serta penerus mereka yang setia menjalankan kerja Nabi dan Rasul. Syariati menyebut mereka hadir di tengah masyarakat datang untuk membantu orang – orang tertindas dan lemah. Mereka bukan seniman, filsuf, ilmuwan atau penulis. Menurut Syaria’ti mereka lah Rausyhan Fikr itu. Aktivis – aktivis pembaharu yang turun ke jalan menyuarakan hak – hak rakyat dan menuntut keadilan kepada penguasa.
Para Nabi ini menurut Syaria’ti seperti bunga api yang dipijarkan dari dari percikan batu. Menyadarkan pikiran yang tumpul, memacu getar hidup dan darah pada urat – urat orang yang lembam.
Hanya saja, di titik ini, Syaria’ti melihat ideologi Rausyhan Fikr itu lahir dari penderitaan rakyat, rasa sakit dan kemelaratan. Ideologi itu adalah representasi dari rakyat jelata. Ideologi yang tumbuh dari orang yang Ummi[3]. Ideologi yang tidak lahir dari kalangan terpelajar, sarjana atau pun akademisi. Menurut saya, apa yang diungkapkan oleh Syaria’ti pada bagian ini menunjukkan bahwa ideologi islam lahir dari tragedi dan pertentangan. Persis seperti Marx menumbuhkan ideologinya. Ideologi Syaria’ti adalah Ideologi Islam revolusioner. Islam Kiri yang mengadopsi (dan tercemari) pemikiran sosialis ala Marxis. Menurut saya, islam adalah islam. Dan ideologi islam tidak lahir dari tragedi. Islam lahir bukan untuk membebaskan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Islam datang sebagai rahmah. Karena itupula cara – cara yang ditempuhnya juga cara – cara rahmah. Islam mampu mengakomodasi konsep – konsep ilmu di luar wilayah kelahiran islam secara adaptasi, bukan adopsi. Islam punya cara sendiri dalam mengubah dan men-tajdid masyarakat. Misi islam adalah misi tauhid yang murni sebagaimana tercermin dalam ungkapan Rib’i Bin Amir. Liyukhrijannas min ibadatil ibaad, ila ibaadati rabbil ibaad. Sehingga islam tidak mengenal revolusi berdarah, sebagaimana yang dilakukan oleh pengusung ideologis sosialis – komunis. Dalam Tajdid islam mengenal jalan washathiyah. Konsep adil, pertengahan dan tawazun. Islam bisa mengakomodir sistem pemerintahan yang ada, bagaimana pun bentuknya. Selama sistem itu tidak bertentangan dengan hukum – hukum syariat dan masih menjaga Maqashidu as-Syariah. Karena itu, revolusi yang dilakukan oleh Rasulullan SAW adalah revolusi dalam kerangka dan panduan wahyu serta para ahli ilmu. Ud’u ila sabiili rabbika bil hikmah, walmauizhatil hasanah, wajaadil hum billatiya hiya ahsan. Itulah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul serta kalangan ulama – ulama ahlussunnah. Gerakan islam lahir bukan karena tragedi. Apalagi tragedi berdarah. Sebagaima cerita kematian Husain di karbala. Maupun peristiwa tragis penyaliban Yesus oleh Bani Israil. Ideologi Islam lahir karena degradasi aqidah, kemunduran pemikiran, serta kerusakan akhlak sehingga manusia berada lebih rendah di bawah binatang. Akal dan nuraninya telah  lepas dan mengalami disorientasi dari fitrah yang sebenarnya. Inilah tujuan tajdid dalam islam.
Pada bagian keempat, yang berjudul ‘Nestapa Kaum Tertindas’, Syari’ati menulis curahan pikirannya dalam kalimat – kalimat pendek dan padat. Ia mentafakkuri bagaimana nestapa dan nelangsa-nya kalangan budak – budak Fir’aun. Ia bercerita tentang pengalamannya mengunjungi Mesir dan melihat kemegahan Piramida-Piramida raksasa. Sebuah bangunan yang maha dahsyat di zamannya.
 
Syari’ati tidak seperti orang awam yang sekedar terpana melihat kemegahan tiga Piramida itu. Tetapi ia berpikir siapa yang bekerja membangun piramida sebesar itu. Berapa buruh kasar, dan berapa berat buruh itu dipekerjaan untuk menyelesaikan proyek raksasa itu.
Setelah diberitahu, bahwa dari untuk membangun enam Piramida besar dan tiga lainnya yang kecil dibutuhkan untuk memindahkan sekitar 800 juta bongkahan batu yang diangkut dari Aswan ke Kairo. Jarak dari Aswan ke Kairo berjarak 80 mil. Di dalam perjalanan itu, ada bongkahan – bongkahan yang tercecer, yang tidak lain adalah bongkahan yang tidak sampai ke pusat pembangunan Piramida itu. Sang pandu wisata mengatakan bahwa budak – budak yang mengangkut beban – beban itu banyak yang tertimpa oleh angkutannya dan mati di tengah jalan. Sebuah sistem perbudakan yang luar biasa dahsyatnya, menurut Syari’ati.
Sebuah makam seorang raja, mesti dibangun di atas tumpukan – tumpukan jasad para hamba – hamba sahaya dan buruhnya. Bekerja luar biasa beratnya. Mengangkut beban – beban yang berat untuk mengikuti titah sang raja. Dari narasi itu, Syari’ati mendekati nalar pembaca, memanggil para pemerhati yang peduli kepada kalangan jelata yang telah beribu – ribu tahun diperbudak. Lalu, siapa yang akan membebaskan budak – budak itu ?. Zoroaster, Kong Hu Cu, Budha ?. Syari’ati menyebut mereka sebagai orang yang akan menyelematkan kaum budak, namun mereka semua menurut Syari’ati menghianati kaum budak. Mereka semua tenggelam dan larut dan justru mengajak manusia larut ke dalam kepertepaan, dan ‘terbang’ menuju nirwana. Sementara “cambukan”, “keluhan”, serta “lecet-lecet” yang menjadi bekas – bekas cambukan di atas punggung para budak tidak ada yang mempedulikan.
Kemudian pilihan itu ia jatuhkan pada Muhammad SAW, serta diteruskan oleh keluarganya, Ali bin Abi Thalib. Ali-lah yang mengorbankan hidupnya untuk keadilan dan membebaskan para budak dari perbudakan itu. Dalam bukunya, Syaria’ti menuliskan “Kutemukan seseorang yang bekerja bagai seluruh dunia. Ialah manusia keadilan. Orang yang sedemikian kuat dan berdisiplin sehingga menjadikan kakaknya sebagai garapan pertama. Dialah orang yang bersitrikan puteri Muhammad SAW> bekerja dan menderita kebangkrutan dan kelaparan selama hidupnya sebagaimana kita. Kutemukan seseraong yang anak – anaknya merupakan pewaris bendera merah yang sepanjang sejarah menjadi milik kelas kita”[4].
Kemudian ia kembali menulis “Sobatku, orang – orang yang tetap setiap pada Ali adalah anggota dalam kelompok kita yang menderita. Ia menyampaikan khutbah-khutbah … bukan untuk memberikan pemaafan bagi penindasan – penindasan yang ditimpakan atas kita; tidak pula bagi ekses-ekses para pengejar kekuasaan. Semuanya itu disampaikannya untuk mendidik dan menyelamatkan kita. Ia tidak menghunus pedangnya untuk mempertahankan dirinya, keluarganya, rasnya, tidak pula kekuasannya. Dia melakukannya untuk menyelamatkan kita semua…”[5]
 
Inilah madzhab pemikiran yang diajarkan Syari’ati. Syiah Ali. Sebuah pemikiran yang telah merangsang dan menggerakkan manusia – manusia di Iran untuk melawan dan menggulingkan rezim Shah Pahlevi. Apakah ideologi itu cocok dikembangkan di Indonesia ?. Mari kita kaji bersama. Wallohu a’lam bi as-Shawab.

 Oleh : Syamsuar Hamka


[1] Hlm. 110
[2] Hlm. 109
[3] Hlm. 121
[4] Hlm. 180
[5] Hlm. 180 – 181

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here