Alasan al-Attas memilih Istilah "Ta'dib"

0
78

Pendidikan, menurut al-Attas adalah “Penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang –ini disebut ta’dib-. Al-Qur’an menjelaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalah nabi Muhammad SAW, yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai manusia sempurna atau manusia universal (al-insan al-kullyy). Oleh karena itu, pengaturan administrasi pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam sistem pendidikan islam haruslah merefleksikan manusia yang sempurna[1].

Al-Attas, dalam Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam yang diselenggarakan di Makkah, pada April 1977 mengajukan agar defenisi pendidikan Islam diganti menjadi penanaman adab dan istilah pendidikan dalam islam menjadi ta’dib. Alasannya, “Struktur konsep ta’dib sudah mencakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah)”[2].

Kata adab memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, sebab pada awalnya perkataan adab berarti undangan ke sebuah jamuan makan (Ma’daba Allah fi al-Ardh), yang di dalamnya sudah terkandung ide mengenai hubungan sosial yang baik dan mulia[3]. Ketika adab mengacu pada hubungan manusia, ha tersebut berarti bahwa norma-norma etika yang diterapkan untuk perilaku sosial mengikuti persyaratan tertentu berdasarkan kedudukan seseorang dalam masyarakat[4].

Al-Attas mengajukan defenisi mengenai adab,

Adab is the discipline of body, mind, and soul; the discipline that assures the recognition and acknowledgement of one’s proper place in relation to one’s physical, intellectual and spiritual capacities and potentials; the recognition acknowledgement of the reality that knowledge are ordered hierarchically according to their various levels (maratib) and degrees (darajat)[5].

Wan Daud mengartikan,

Adab adalal pendisiplinan tubuh, pikiran dan jiwa; pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada, terdiri dari hierarki yang sesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual, dan spiritualnya[6]

Oleh karena itu, al-Attas menolak peristilahan tarbiyah dan ta’lim yang selama ini dianggap sebagai pengertian yang lengkap mengenai pendidikan dalam Islam, baik salah satu (tarbiyah atau ta’lim), maupun keduanya, (ta’lim wa tarbiyah), sebab istilah itu menunjukkan ketidaksesuaian makna. Tarbiyah, menurut beliau, hanya menyinggung aspek fisikal dalam mengembangkan tanam-tanaman dan terbatas pada aspek fisikal dan emosional dalam pertumbuhan dan perkembangan binatang dan manusia[7].

Ibnu Maskawaih memakai istilah ta’dib untuk menunjukkan pendidikan intelektual, spiritual dan sosial, baik anak muda maupun orang dewasa. Sedangkan tarbiyah dipakainya untuk mengajari binatang, baik yang dilakukan oleh manusia, maupun sesama binatang. Sehingga makna tarbiyah hanya berkaitan dengan pengembangan fisikal dan emosional manusia. Karena itu pula Fir’aun dalam al-Qur’an (al-Qashash: 18) mengatakan bahwa dirinya telah melakukan tarbiyah kepada Nabi Musa[8].

Beliau mengambil pendapat dari penjelasan Ibnu Abbas dalam menafsirkan QS aat-Tahrim: 6 “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, menyatakan “ajarilah mereka (faqqihuuhum), dan didik mereka dengan adab (addibuuhum)[9]. Ibnu Mubarak juga mengatakan, kita lebih memerlukan adab dari pada ilmu yang banyak”[10].

Dengan demikian, adab dapat disimpulkan melibatkan hal-hal berikut [11]:

  1. Tindakan mendisiplinkan jiwa dan pikiran
  2. Pencarian kualitas dan sifat-sifat jiwa dan pikiran yang baik
  3. Perilaku yang benar dan sesuai yang berlawanan dengan perilaku salah dan buruk
  4. Ilmu yang dapat menyelamatkan manusia dari kesalahan dalam mengambil keputusan dan sesuatu tindakan yang tidak terpuji
  5. Pengenalan dan pengakuan kedudukan (sesuatu) secara benar dan tepat
  6. Sebuah metode mengetahui mengaktualisasikan kedudukan sesuatu secara benar dan tepat
  7. Realisasi keadilan sebagaimana direfleksikan oleh Hikmah.

[1] Wan Daud, Filsafat dan Praktik pendidikan Islam, Mizan, Jakarta, tahun 1998, hal. 174

[2] Wan Daud, Filsafat, hal. 175

[3] Wan Daud, Filsafat, hal. 175

[4] Wan Daud, Islamisasi ilmu-Ilmu Kontemporer dan Peran univeristas Islam, Bogor, UIKA-CASIS UTM, 2013, hal. 68

[5] Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, ISTAC, Malaysia, Tahun 1980, hal. 11

[6] Wan Daud, Filsafat, hal. 177

[7] Wan Daud, Filsafat, Hal. 180

[8] Wan Daud, Filsafat, hal. 180

[9] Wan Daud, Filsafat, hal. 181

[10] Wan Daud, Filsafat, hal. 181-182

[11] Wan Daud, Filsafat, hal. 183

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here