Menhaj Imbau Jemaah Umrah Indonesia Menjaga Santun dan Toleransi di Tanah Suci
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengimbau jemaah umrah Indonesia mengedepankan sikap santun, bijaksana, dan toleran saat menjalankan ibadah di Makkah dan Madinah.
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan, memberikan arahan penting kepada para jemaah umrah Indonesia sebelum bertolak menuju Tanah Suci. Berdasarkan laporan yang dihimpun dari detikHikmah dan Republika, Menhaj mengimbau seluruh jemaah untuk senantiasa mengedepankan sikap santun, bijaksana, dan toleran selama beribadah di Makkah dan Madinah.
Imbauan tersebut disampaikan secara langsung oleh Gus Irfan saat menyapa para jemaah yang sedang menunggu jadwal keberangkatan di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, pada Jumat (6/11/2026). Peninjauan tersebut dilakukan tepat sebelum dirinya terbang menuju Arab Saudi untuk menjalankan tugas dinas. Kedatangan Menhaj bersama rombongan pejabat Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI disambut hangat oleh para jemaah yang sempat bersalaman dan berbincang langsung dengannya.
Pesan Menhaj Mengenai Keragaman di Tanah Suci
Menurut laporan detikHikmah dan Republika, Gus Irfan mengingatkan bahwa selama menjalankan ibadah umrah, para jemaah umrah Indonesia akan bertemu dengan ribuan umat Islam dari berbagai belahan dunia. Setiap jemaah membawa latar belakang budaya serta ragam tata cara ibadah yang berbeda-beda. Oleh karena itu, ketenangan dan pemahaman antar sesama sangat dibutuhkan demi menjaga kekhusyukan perjalanan ibadah, sebagaimana dipraktikkan dalam tips menjaga iman saat bepergian.
Dikutip dari detikHikmah dan Republika, Gus Irfan menegaskan pentingnya menyikapi perbedaan suasana tersebut dengan kedewasaan dan kebijaksanaan:
"Bapak, ibu jemaah umrah mohon untuk tetap mengedepankan perilaku bijak dalam menghadapi tempat yang berbeda dan suasana yang berbeda pula, baik budaya maupun cara beribadah yang dilakukan oleh jemaah lain dari seluruh dunia."
Menurut laporan detikHikmah, pernyataan tersebut dilanjutkan dengan doa dari Menhaj agar ibadah para jemaah berjalan lancar. detikHikmah mencatat kutipan doa Gus Irfan sebagai berikut: "Saya doakan pula ibadahnya lancar dan semuanya menjadi mabrur mabrurah serta selamat kembali ke Tanah Air."
Momentum Hari Pahlawan dan Keteladanan Keluarga
Selain memberikan bimbingan tata krama di Tanah Suci, Menhaj menekankan agar perjalanan umrah yang bertepatan dengan suasana bulan November menjadi momentum perbaikan diri. Menurut laporan Republika dan detikHikmah, berumrah di bulan November yang diperingati sebagai bulan Hari Pahlawan diharapkan mampu menjadikan jemaah sebagai keteladanan kebaikan sekembalinya ke Tanah Air.
Sebagaimana dilaporkan Republika, Gus Irfan menyampaikan pesan keteladanan tersebut kepada jemaah:
"Keteladanan bapak ibu jamaah umrah sebagai pahlawan keluarga untuk menata generasi yang akan mewarisi kepemimpinan bangsa. Bapak ibu juga berumrah di bulan November, bulan Hari Pahlawan."
Sementara itu, detikHikmah mencatat kutipan kalimat Menhaj secara ringkas: "Keteladanan bapak ibu jemaah umrah sebagai pahlawan keluarga untuk menata generasi yang akan mewarisi kepemimpinan bangsa." Diharapkan predikat umrah mabrur dan mabrurah dapat tercermin melalui perilaku yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Pengawasan Layanan dan Tugas Biro Travel (PPIU)
Di samping memberikan imbauan moral kepada jemaah, kunjungan Menhaj di Bandara Soekarno-Hatta juga dimanfaatkan untuk memantau operasional Terminal 2F yang telah ditetapkan sebagai Terminal Khusus Haji dan Umrah sejak 1 Juli 2026. Menurut laporan kedua media, penetapan terminal khusus ini bertujuan untuk meningkatkan ketertiban administrasi serta kenyamanan jemaah saat berangkat maupun kembali.
Berdasarkan laporan detikHikmah dan Republika, Gus Irfan meminta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau biro travel untuk mengoptimalkan fasilitas terminal yang tersedia, meliputi:
- Fasilitas pemeriksaan dokumen dan keimigrasian
- Layanan penanganan bagasi jemaah
- Pos pengawasan operasional
Menhaj menekankan agar pihak travel tidak hanya fokus pada proses keberangkatan semata, melainkan juga menjamin perlindungan menyeluruh dan pembinaan syariah yang memadai bagi setiap jemaah. Pembinaan syariah ini menjadi bagian penting dalam membantu jemaah menjalankan ibadah secara tepat di tengah kepengurusan administrasi perjalanan, seperti halnya memahami tips dan kelebihan umrah dengan kredit syariah di BFI Finance.
Dikutip dari detikHikmah dan Republika, Menhaj memberikan instruksi tegas kepada biro perjalanan umrah:
"Pastikan tiket keberangkatan dan kepulangan, akomodasi terkonfirmasi, konsumsi terkelola, dan terutama kegiatan syariah atau fikih umrahnya dapat dipastikan sesuai dengan ketentuan syariah."
Menurut detikHikmah, Menhaj menambahkan harapan agar kepastian ketentuan syariah tersebut membuat jemaah semakin yakin sehingga ibadah umrah dapat menjadi media untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pemenuhan bimbingan syariah ini juga membantu jemaah dalam menerapkan tips menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan selama proses perjalanan ibadah berlangsung.
Perbedaan Catatan Laporan Media
Terdapat beberapa perbedaan minor dalam laporan mengenai kunjungan Menhaj tersebut:
- Sifat Kunjungan: Laporan detikHikmah menyebutkan kunjungan tersebut sebagai kunjungan mendadak ke Terminal 2F Soetta pada Jumat (6/11/2026) pagi sebelum bertolak dinas ke Arab Saudi. Sementara Republika melaporkan kegiatan tersebut sebagai momen menyapa jemaah dalam rangkaian kunjungan kerja Menhaj ke Arab Saudi.
- Sumber Keterangan: detikHikmah menyebutkan imbauan Menhaj disampaikan dalam keterangan persnya, sedangkan Republika mencatat imbauan tersebut dikeluarkan melalui siaran pers pada Ahad (8/11/2026).
Hikmah dan Nilai Kesantunan Ibadah
Pesan kesantunan dan tenggang rasa yang disampaikan Menhaj mengingatkan pentingnya akhlakul karimah saat berinteraksi dengan sesama Muslim dari bermacam latar belakang budaya. Berada di tempat suci bersama jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia menuntut kelapangan dada dan sikap saling menghormati, sehingga keberagaman cara dan tradisi dapat disikapi dengan penuh kehangatan serta persaudaraan Islam.








