Melahirkan Ulama Rabbani

0
1071

Kehadiran islam di tengah dunia menjadi sebuah peradaban yang besar, salah satu faktornya adalah karena peran para ulama. Ulama adalah pewaris dari para Nabi. Pewaris yang mewariskan ilmu sehingga kemurnian dan otentisitas agama terjaga dari penyelewengan dan penyimpangan.

Keberadaan ulama pewaris para nabi di muka bumi merupakan rahmat bagi seluruh anak Adam. Karena tanpa mereka niscaya kehidupan manusia di seluruh alam ini tak jauh beda dengan kehidupan binatang. Kehidupan binatang hanya bertumpu pada pemuasan syahwat perut dan di bawah perut. Al-Hasan Al-Bashri pernah menegaskan hal ini dalam sebuah nasehatnya, beliau berkata: “Kalau tidak ada ulama niscaya manusia seperti binatang.”

Ulama selalu hadir dan tampil ditengah-tengah umat, selain menjadi panutan, ia juga membimbing dan mengarahkan. Tampil menjadi pemimpin yang tegas dan pemberani. Itulah salah satu sifat ulama.

Karena itu, tidak sembarang orang bisa digolongkan masuk ke dalam golongan ulama. Dan karena itu pula, ulama dalam islam tidak semua bisa dijadikan rujukan. Sebab dikenal ada ulama suu’ dan ada ulama rabbani.

biruniUlama suu’ memiliki sifat cinta yang berlebihan terhadap kesenangan dunia. Ibnu Qudamah menjelaskan tentang mereka dengan mengucapkan: “Mereka adalah orang-orang yang bertujuan menggunakan ilmu agama untuk bersenang-senang dengan dunia dan mencapai kedudukan yang tinggi di sisi pendukungnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Dari abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda: “Barang siapa yang mempelajari suatu ilmu yang semestinya untuk mencari wajah Allah, (kemudian) dia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkansebuah tujuan dunia, dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat nanti.” (HR. Abu dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad)

Dalam riwayat lain Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Barang siapa yang mempelajari ilmu agama untuk membanggakan diri terhadap para ulama atau mendebat orang-orang yang bodoh atau mengalihkan perhatian manusia kepadanya, maka dia di neraka.” (HR. Tirmidzi)

Sedangkan Ulama Rabbani, mereka menjadi penjaga ummat dan syariat. Mencintai Allah dan mendahulukan akhirat. Sehingga mereka dicintai oleh umat dan dibenarkan dibela fatwa dan perkataannya.

kisah-hidup-ulama-rabbani

Berbagai persoalan dapat kita lihat dalam sejarah. Ulama Rabbani, selalu menjadi pilar yang menjaga ummat dari berbagai bentuk makar dan perusat syariat. Kita mengenal Imam Ahmad yang mempertaruhkan jiwanya membela al-Qur’an. Ia dengan tanpa takut menegaskan kepada khalifah yang dzhalim pada saat itu, bahwa al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk. Dengan pernyataan itu, ia harus menerima cambukan setiap harinya dan bermalam di balik jeruji.

Oleh karena itu, ulama adalah salah satu pilar tegaknya kemuliaan dan kejayaan islam. Dan kerja kita haruslah diarahkan untuk mendidik dan mencetak generasi-generasi demikian. Dr. Mohammad Natsir selalu menangis, jika beliau mendapati berita tentang kematian Ulama. Beliau khawatir, jangan sampai ulama kemudian menjadi habis, dan akhirnya ummat akan mudah disesatkan.

Sehingga kita, ummat islam dalam berbagai lapisannya, bertugas melahirkan ulama dan pemimpin umat. Kerja untuk terus mendidik dan melahirkan pemimpin agama yang faqih dan peduli dengan urusan umat adalah kerja yang panjang dan tidak pernah habis.

Di situlah peran pendidikan islam. Salah satu peran institusi pendidikan yang ratusan tahun telah hadir di negeri ini. Dan kerja itu tidak boleh berhenti. Sebab kehadiran ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama, dan memahami peta zamannya, adalah keharusan untuk menjga umat dari penyelewengan (Wallohu a’lam bi ash-showab) (elf).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here