Udzur-udzur yang Menyebabkan Bolehnya Tidak Berpuasa Di Bulan Ramadhan

0
49

Soal:

Udzur apa saja yang dapat menyebabkan seseorang boleh meninggalkan puasa di bulan Ramadhan?

Jawaban:

Termasuk kemudahan yang Allah berikan bagi hamba-Nya adalah bahwa puasa hanya diwajibkan bagi yang mampu melaksanakannya. Allah mengizinkan untuk meninggalkan puasa bagi siapa saja yang tidak mampu melaksanakan puasa dengan alasan udzur yang syar’i.

Udzur-udzur penyebab bolehnya meninggalkan puasa yang dibenarkan secara syaria’t, antara lain adalah;

Udzur pertama, Sakit.

Sakit adalah: keadaan seseorang saat berada di luar batas kondisi sehat karena suatu sebab.

Ibnu Qudamah menyatakan, “Ulama’ bersepakat bahwa secara umum orang sakit boleh tidak puasa. Dasar pijakannya adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan siapa saja yang tengah sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh maka hendaknya mengganti sejumlah (hari yagn dia tinggalkan) itu (untuk dilaksanakan puasa) pada hari-hari lainnya.” (al-Baqarah (2):185)

Juga hadits yang diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu’anhu yang menyatakan, “Ketika ayat ini turun, yaitu firman Allah,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang yang keberatan melaksanakan puasa itu (lalu meninggalkannya)  wajib menggantinya dengan fidyah berupa sedekah makanan untuk orang miskin.”

Saat itu, orang yang ingin tidak berpuasa boleh tidak puasa, lalu cukup menunaikan fidyahsaja. Sampai kemudian turun ayat berikutnya, yaitu firman Allah Ta’ala,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ , هُدًى لِلنَّاسِ , وَبَيِّنَاتٍ مِنْ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ , فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ , وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Itulah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu juga pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain” Maka ayat ini pun menghapus ketentuan hukum yang terkandung pada ayat sebelumnya.”

Maka orang yang khawatir sakitnya akan bertambah parah atau kesembuhannya jadi tertunda, atau ditakutkan ada anggota tubuh yang akan rusak akibat puasa. Maka dia dia boleh tidak puasa. bahkan disunnahkan untuk tidak berpuasa. Tetap berpuasa dalam kondisi itu hukumnya makruh, karena tindakan itu dapat mengantarkan pada kebinasaan, maka harus dihindari.

Rasa berat saat melakukan puasa karena sakit menyebabkan orang yang sedang sakit mendapatkan keringanan untuk meninggalkan puasa. Sedangkan bagi orang yang sehat, meskipun khawatir bakal merasa keberatan atau capek luar biasa saat melakukan puasa, maka tetap tidak boleh meninggalkan puasa. Puasa tidak boleh ditinggalkan hanya karena alasan terlalu capek.

Udzur kedua, Safar (mengadakan perjalanan jauh).

Safar yang menyebabkan boleh meninggalkan puasa ada syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Harus merupakan safar dengan jarak tempuh yang jauh, sekira shalat boleh dilakukan secara qashr.
  2. Si Musafir tidak berniat untuk bermukim/tinggal menetap selama perjalanan yang dia lakukan itu.
  3. Safar yang dilakukan itu bukan dalam rangka kemaksiatan. Namun dengan maksud yang dibenarkan. Demikian menurut mayoritas ulama’. Alasannya, karena meninggalkan puasa adalah bentuk rukhshah (keringanan), maka orang yang bersafar dalam rangka kemaksiatan, tidak berhak mendapatkan kemudahan semacam ini. Contohnya; orang yang melakukan perjalanan jauh dalam rangka pembegalan atau perampokan, misalnya.

Rukhshah (keringan) bagi musafir ini masa berlakunya bisa terputus. Ada dua sebab dalam hal ini yang disepakati oleh para ulama’:

Sebab pertama, Jika si musafir sudah pulang ke negerinya sendiri dan telah sampai di kampung halamannya; yaitu di daerah yang dia tinggali.

Sebab kedua, Jika si musafir berniat untuk bermukim/tinggal menetap di suatu tempat, baik menentukan jumlah harinya persinggahannya atau tidak. Jika memang tempat tersebut layak huni. Maka dia dianggap telah bermukim. Dengan itu, dia sudah berstatus sebagai orang muqim (bukan musafir lagi), maka dia wajib menyempurnakan shalat (tidak boleh mengqashr) dan wajib berpuasa Ramadhan, tidak boleh meninggalkan puasa. Karena statusnya sebagai musafir sudah tidak berlaku lagi.

Udzur ketiga, Masa Kehamilan dan Menyusui.

Para pakar fiqih telah mencapai mufakat bahwa wanita hamil dan menyusui boleh meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Dengan catatan, hal itu hanya berlaku jika ada kekhawatiran bahwa puasa akan berakibat kurang baik bagi dirinya atau bayinya. Dasar hukum rukhshah (keringanan) untuk mereka ini adalah firman Allah,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain”.

Yang dimaksud dengan “sakit” dalam ayat ini bukanlah kondisi sakit itu sendiri, karena orang yang sakit namun tidak terganggu untuk melaksanakan puasa, dia tidak mendapatkan rukhshah (keringanan) tersebut. Maka sebutan “sakit” dalam ayat itu hanyalah peminjaman istilah untuk keadaan dimana puasa saat itu tidak bisa dijalani karena ada hal buruk yang dikhawatirkan. Dan kekhawatiran itu ada dalam kasus ini. Makanya, wanita hamil dan menyusui masuk dalam kategori mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa.

Termasuk dalil hal ini juga adalah hadits Anas bin Malik al-Ka’biy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ

“Sesungguhnya Allah menghilangkan setengah kewajiban shalat atas musafir. Juga menghilangkan kewajiban puasa bagi musafir, wanita hamil dan ibu menyusui.”

Udzur keempat, Kerentaan atau Usia Lanjut.

Yang tercakup dalam kategori ini, di antaranya; Kakek jompo, yaitu para lansia yang segera tutup usia atau sudah mendekati ajalnya, setiap hari tenaganya makin berkurang menuju akhir hayatnya. Lalu orang sakit yang tidak bisa diharap kesembuhannya, artinya sudah divonis tidak mungkin sehat kembali. Juga para wanita tua renta, yang sudah sangat berumur. Mereka semua disyariatkan untuk meninggalkan puasa berdasarkan dalil firman Allah,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan bagi orang yang keberatan melaksanakan puasa itu (lalu meninggalkannya)  wajib menggantinya dengan fidyah berupa sedekah makanan untuk orang miskin.”

Ibnu ‘Abbas menyatakan,

“Ayat ini tidak mansukh (dihapus ketetapan hukumnya), tapi merupakan rukhshah (keringanan) bagi lelaki jompo dan wanita tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, maka boleh tidak puasa. dan sebagai gantinya mereka harus bersedekah makanan untuk seorang miskin untuk tiap hari yang mereka tinggalkan.”

Udzur kelima, Rasa Lapar dan Dahaga yang Membahayakan.

Orang yang merasakan rasa lapar yang dahsyat atau rasa dahaga yang mencekik maka boleh membatalkan puasa, lalu makan minum secukupnya, sekadar agar tidak sampai masuk dalam kondisi darurat kesehatan. Lalu dia harus tetap berpuasa di sisa siangnya dan tetap berkewajiban mengqadha’ puasa yang batal hari itu.

Temasuk dalam kategori ini adalah kondisi ketika dikhawatirkan akan lemah saat berhadapan dengan musuh, baik hanya dalam perkiraan maupun saat sudah dipastikan, misalnya saat berada di tengah pengepungan. Maka pasukan yang sedang berperang, jika secara yakin sudah memastikan atau baru memperhitungkan bahwa perang akan segera pecah karena sudah berhadapan dengan musuh, lalu dia khawatir akan lemah saat bertempur sebab puasa, meskipun tidak sedang dalam keadaan safar, dia boleh membatalkan puasa sebelum pertempuran berkecamuk.

Udzur keenam, Di Bawah Tekanan/Pemaksaan:

Maksudnya adalah jika ada orang lain yang membuat dirinya melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu secara paksa di bawah ancaman.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/23296

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here