Shalat Tarawih Dikerjakan Sendiri Atau Berjamaah?

0
32

Soal:

Saya pernah mendengar, bahwa seorang muslim disunnahkan mengerjakan shalat tarawih sendiri, seperti yang dilakukan oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– dengan sendiri pula, kecuali 3 hari saja (yang memang dikerjakan secara berjamaah), apakah pendapat ini benar?

Dan saya pernah mendengar juga, bahwa membaca al-Qur’an hingga khatam ketika shalat tarawih di bulan Ramadhan termasuk amalan bid’ah; sebab Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– tidak pernah mencontohkannya, apakah pendapat ini benar?

Jawaban:

Pertama:

Shalat malam di bulan Ramadhan disyariatkan dikerjakan berjamaah, boleh juga dikerjakan sendirian. Sedangkan bila dikerjakan secara berjamaah, hal itu lebih utama daripada sendirian, terlebih Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– pernah mengerjakannya secara berjamaah beberapa malam.

Disebutkan secara valid di dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– shalat mengimami para sahabatnya, tiba di malam ketiga atau keempat, beliau tidak keluar rumah untuk mengimami mereka, lantas di pagi harinya beliau bersabda,

لَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

“Tidak ada alasan lain yang menghalangiku untuk shalat malam bersama kalian, selain kekhawatiranku kelak shalat tersebut akan diwajibkan kepada kalian.” (HR. al-Bukhary no. 1129,

Dan dalam redaksi Muslim no. 761,

وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلاةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا

“Tetapi saya khawatir shalat malam tersebut akan diwajibkan kepada kalian, sedangkan kalian tidak sanggup.”)

Maka shalat tarawih berjamaah diakui validitasnya berdasarkan sunnah Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-pun menyebutkan alasan tidak melanjutkan shalat malamnya secara jamaah, yaitu khawatir akan menjadi wajib.

Dan kekhawatiran tersebut tidak berlaku lagi setelah Rasul –Shallallahu ‘alaihi wasallam– wafat, karena dengan peristiwa wafatnya beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka wahyu pun terputus, sehingga tidak akan mungkin diwajibkan. Tatkala alasannya sirna yakni takut akan diwajibkan, lantaran terputusnya wahyu, maka saat itu statusnya sunnah.

Silakan lihat asy-Syarh al-Mumti’ karya syekh Ibnu Utsaimin (4/74).

Imam Ibnu Abdul Barr –Rahimahullah– menuturkan,

“Di antara faidah yang terkandung di dalamnya, Bahwa menghidupkan bulan Ramadhan dengan shalat malam termasuk sunnah Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, seorang muslim diarahkan serta dianjurkan untuk mengerjakannya. Ibadah tersebut bukanlah buatan Umar bin al-Khathab, sebab apa yang ia lakukan dengan menghidupkan malam-malam di bulan tersebut, merupakan amalan yang pernah dikerjakan, disukai, serta diridhai oleh Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan tidak ada alasan lain yang menghalangi beliau untuk merutinkannya secara berjamaah, selain kekhawatiran akan diwajibkan bagi umatnya, dan beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam– sosok orang yang sangat kasih sayang kepada kaum mukminin.

Tatkala Umar mengetahui alasan Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– tersebut serta tahu betul, bahwa perkara-perkara yang wajib tidak akan ditambah atau dikurangi lagi sepeninggal beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka ia pun membangkitkan kembali shalat malam itu bagi manusia, menghidupkannya, serta memerintahkannya, ia merupakan amalan sunnah yang terjadi pada tahun 14 Hijriyah, dan tindakan Umar tersebut termasuk perbuatan yang Allah kehendaki baginya dan menjadikannya mulia.” (Lih: at-Tamhid, 8/108-109).

Para sahabat –Radhiyallahu ‘anhum– dahulu pernah shalat malam sepeninggal Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– membentuk jamaah masing-masing serta ada pula yang sendiri-sendiri, hingga akhirnya Umar –Radhiyallahu ‘anhu– menyatukan mereka supaya shalat dengan satu imam.

Dari Abdurrahman bin Abdul Qari`, bahwa ia berkata,

“Saya pernah keluar bersama Umar bin al-Khathab -Radhiyallahu ‘anhu- di malam bulan Ramadhan menuju masjid, ternyata di sana orang-orang sedang shalat masing-masing, ada yang shalat sendiri dan ada pula beberapa orang yang berjamaah.

Lantas Umar berkata, ‘Menurut hemat saya, jika mereka semua shalat berjamaah menyatu dalam satu jamaah, hal ini akan lebih baik’,

Kemudian ia bertekad, dan menyatukan mereka semua untuk shalat yang diimami oleh Ubay bin Ka’ab, lalu di malam berikutnya aku pun keluar lagi dengannya, dan mendapati orang-orang shalat dengan satu jamaah.

Umar pun berkata, ‘Sungguh menyenangkan pemandangan ‘bid’ah’ ini, bagi orang-orang yang sedang tidur sekarang ini lebih baik daripada yang sedang shalat sekarang’ –maksudnya orang-orang yang mengerjakannya di akhir malam lebih baik-, karena kala itu, orang-orang mengerjakannya di permulaan malam (Bada isya)’.” (HR. al-Bukhary no. 1906).

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah menuturkan –saat membantah orang-orang yang melegalkan perbuatan bid’ah berdalil dengan pernyataan Umar ‘Sungguh menyenangkan pemandangan bid’ah ini’-:

“Adapun mengenai shalat malam di bulan Ramadhan, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– telah mencontohkannya bagi umatnya, beliau pernah shalat berjamaah beberapa malam, dan di masa hidup beliau pun, ada sebagian di kalangan sahabat yang shalat berjamaah serta ada pula yang sendiri-sendiri, namun mereka tidak mengerjakannya secara rutin dengan satu jamaah; supaya shalat tesebut diwajibkan bagi mereka.

Tatkala Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– wafat, syariat ini sudah baku, dan di masa (kekhalifahan) Umar –Radhiyallahu ‘anhu– ia menyatukan mereka untuk shalat dalam satu jamaah, yakni Ubay bin Ka’ab mengimami orang-orang dalam shalat tarawih berjamaah atas perintah Umar bin al-Khathab –Radhiyallahu ‘anhu– yang termasuk khulafa`ur Rasyidin, yang kaitannya dalam hal ini beliau –Shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa`ur Rasyidin yang mereka diberi petunjuk sepeninggalku, pegang teguh sunnahku dengan ‘gigi geraham’ (dengan kuat) .”

Gigi geraham; sebab gigitan dengan gigi tersebut kekuatannya lebih besar, sementara apa yang dilakukan oleh Umar merupakan sunnah, hanya saka ia mengatakan ‘Sungguh menyenangkan pemandangan bid’ah ini’, makna pernyataan bid’ah ini dalam sisi bahasa, sebab mereka melakukan perbbuatan yang tidak pernah dikerjakan semasa Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam– hidup, maksudnya menyatu secara rutin dalam satu jamaah seperti ini. Amalan ini termasuk sunnah dalam rangkaian syariat.” (Lih: Majmu’ al-Fatawa, 22/234-235).

Kedua:

Mengkhatamkan al-Qur`an di bulan Ramadhan dalam shalat atau di luar shalat merupakan hal terpuji bagi yang mengamalkannya. Dahulu Jibril –‘Alaihissalam– mengkaji al-Qur`an bersama Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– setiap bulan Ramadhan, dan pada tahun menjelang wafatnya, ia mengkajinya bersama beliau dua kali.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/65572

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here